• Home
  • Hukrim
  • Dittipideksus Bareskrim mengungkap kasus penggunaan gula rafinasi Diseludupkan ke Hotel
Kamis, 02 November 2017 12:39:00

Dittipideksus Bareskrim mengungkap kasus penggunaan gula rafinasi Diseludupkan ke Hotel

HUKRIM, - Bareskrim kembali membuat gebrakan dalam kasus pangan. Rabu (1/11), Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim mengungkap kasus penyelewengan penggunaan gula rafinasi atau gula mentah yang telah mengalami pemurnian yang dilakukan PT CP. Perusahaan pengemasan itu telah beroperasi sejak 2008. 
 
Mengkonsumsi gula rafinasi itu berbahaya bagi kesehatan tubuh. Pasalnya, bisa menyebabkan pengeroposan tulang dan diabetes. Bahkan, sesuai peraturan menteri perdagangan nomor 117/2015 padap 9 ayat 2 disebutkan gula rafinasi hanya diperjualbelikan untuk kepentingan industri dan dilarang diperdagangkan di pasar dalam negeri.
 
Direktur Dittipideksus Bareskrim Brigjen Agung Setya mengatakan, gula rafinasi ini merupakan gula mentah yang telah dimurnikan dan untuk mengkonsumsinya masih perlu diproses lagi. ‘’Bila tidak diproses lanjutan, kesehatan penggunanya akan sangat terancam,’’ ujarnya. 
 
Sebab, gula tingkat kemurniannya yang tinggi membuat tubuh memerlukan vitamin B komplek, kalsium dan magnesium untuk mencerna gula tersebut. ‘’Semua vitamin itu diambil dari tulang, yang kemudian osteoporosis atau pengeroposan tulang akan terjadi pada pengguna gula rafinasi tersebut,’’ tegasnya. 
 
Tidak hanya itu, risiko terjangkit penyakit diabetes juga kian tinggi. Sebab, gula rafinasi ini mudah menjadi glukosa dan menyebabkan keadaan gula yang tinggi dalam darah. ‘’Kami ingin melindungi masyarakat, sehingga penegakan hukum harus dilakukan,’’ terangnya. 
 
Menurutnya, PT CP ini telah beroperasi menyelewengkan gula rafinasi ini sejak 2008. Dari yang per tahun mengemas hanya 2 ton gula rafinasi per bulan hingga saat ini telah mengemas 20 ton gula rafinasi per bulan. ‘’Pemasarannya ke hotel dan kafe,’’ ungkapnya.
 
Jumlah klien dari PT CP itu mencapai 56 hotel dan kafe. Dia mengatakan, tentunya akan dilakukan pemeriksaan terhadap para klien tersebut untuk bisa mendapatkan fakta hukum yang utuh. ‘’Kami periksa nanti, untuk saat ini sudah ada enam saksi yang diperiksa dari PT CP hingga saksi ahli,’’ tuturnya.
 
Untuk memuluskan pelanggaran itu, PT CP mencantumkan label Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Padahal, untuk gula rafinasi itu, BPOM tidak mungkin mengeluarkan izin. ‘’Itu untuk meyakinkan dan menipu konsumen. Sehingga, pengguna gula ini merasa yakin kalau gulanya aman dikonsumsi,’’ ujarnya. 
 
Terkait motif penggunaan gula rafinasi ini, diduga merupakan motif ekonomi. Sebab, gula rafinasi ini harganya lebih murah dari gula pasir yang bisa dikonsumsi. ‘’Jelas agar ongkos produksi rendah dan harga jual lebih murah. Tapi, mengorbankan kesehatan masyarakat luas,’’ jelasnya. 
 
Untuk barang bukti yang telah disita mencapai 20 sak gula rafinasi yang setiap saknya seberat 50 Kg. Juga gula rafinasi yang telah dikemas sebanyak 82.500 kemasan. ‘’Untuk memastikannya kembali gula tersebut juga dilakukan uji laboratorium,’’ terang jenderal berbintang satu tersebut.
 
Menurutnya, setelah uji laboratorium tersebut, maka akan dilakukan penetapan tersangka terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggungjawab dalam pelanggaran tersebut. ‘’Penetapan tersangka merupakan lanjutannya,’’ ujarnya.(*).
Share
Berita Terkait
Komentar

Copyright © 2012 - 2017 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.