• Home
  • Hukrim
  • TNI Tetapkan Satu Tersangka Korupsi Heli AW-101
Sabtu, 17 Juni 2017 16:51:00

TNI Tetapkan Satu Tersangka Korupsi Heli AW-101

NUSANTARA, - Pusat Polisi Militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) menetapkan satu tersangka baru dalam dugaan tindak pidana korupsi pengadaan helikopter angkut AgustaWestland (AW)-101 di TNI Angkutan Udara pada periode 2016 hingga 2017.
 
"Hari ini, kami menetapan satu tersangka dari anggota TNI AU, yaitu atas nama Kolonel Kal FTS SE sebagai Kepala Unit Pelayanan Pengadaan yang secara administrasi bertanggung jawab betul terhadap pengadaan barang dan jasa dalam hal ini adalah pesawat helikopter AW-101," kata Komandan Pusat Polisi Militer TNI Mayor Jenderal TNI Dodik Wijanarko saat konferensi pers di Gedung KPK RI, Jakarta, Jumat (16/6/2017)
 
Lebih lanjut Dodik menyatakan bahwa sampai dengan hari ini tersangka dari pihak TNI ada empat orang terkait dengan dugaan korupsi pengadaan helikopter angkut AW-101 itu.
 
"Sekali lagi kami ingin menyampaikan bahwa ini adalah tersangka sementara karena penyidik POM TNI bekerja sama dengan KPK, PPATK, dan Atase Pertahanan masih terus melakukan berbagai kegiatan penyidikan dan penyelidikan," ucapnya.
 
Menurut dia, tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru di lingkungan TNI.
 
Dalam penyidikan kasus itu, Dodik mengatakan bahwa pada hari Rabu (7/6) tim gabungan tersebut telah menyita uang sekitar Rp7,3 miliar dari Letkol administrasi WW yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka.
 
"Sudah diamankan, diduga uangnya ada kaitan dengan permasalahan pengadaan helikopter AW-101 ini," ucap Dodik.
 
Selain Dodik, turut hadir dalam konferensi tersebut dua wakil ketua KPK masing-masing Saut Situmorang dan Basaria Panjaitan serta Juru Bicara KPK Febri Diansyah.
 
Dalam kesempatan sama, KPK juga menetapkan seorang tersangka baru dari unsur swasta dalam penyidikan dugaan tindak pidana korupsi pengadaan helikopter angkut AgustaWestland (AW)-101 itu.
 
"KPK telah menemukan bukti permulaan yang cukup untuk meningkatkan status penanganan perkara ke tingkat penyidikan dengan menetapkan Direktur PT Diratama Jaya Mandiri (DJM) Irfan Kurnia Saleh (IKS) sebagai tersangka," kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat konferensi pers.
 
Tersangka Irfan Kurnia Saleh diduga telah menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan negara atau perekonomian negara dalam pengadaan helikopter angkut AW-101 di TNI AU pada tahun 2016 s.d. 2017.
 
"Akibatnya, diduga terjadi kerugian keuangan negara sekitar Rp224 miliar," kata Basaria.
 
Irfan Kurnia Saleh disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Pasal tersebut mengatur tentang orang yang melanggar hukum, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya jabatan atau kedudukan sehingga dapat merugikan keuangan dan perekonomian negara dan memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi dengan ancaman pidana penjara maksimal 20 tahun denda paling banyak Rp1 miliar.
 
Basaria menjelaskan bahwa penyidikan perkara tersebut sejak Maret 2017 atas laporan masyarakat yang diterima KPK pada bulan Januari 2017.
 
"Sejak saat itu, KPK terus berkoordinasi dengan pihak POM TNI AU dengan memintai keterangan sejumlah pihak, terutama pihak-pihak yang berada dalam kewenangan TNI AU," tuturnya.
 
Sebelumnya, kata Basaria, pada bulan April 2016, TNI AU mengadakan pengadaan satu unit helikopter angkut AW-101 dengan menggunakan metode pemilihan khusus, yang artinya proses lelang harus diikuti oleh dua perusahaan peserta lelang.
 
"Tersangka IKS selaku Direktur DJM juga diduga sebagai pengendali PT Karya Cipta Gemilang (KCG) mengikuti pemilihan dengan menyertakan kedua perusahaan tersebut," kata Basaria.
 
KPK menduga sebelum proses lelang, tersangka Irfan Kurnia Saleh sudah melakukan perikatan kontrak dengan AgustaWestland sebagai produsen helikopter angkut dengan nilai kontrak sekitar Rp514 miliar.
 
"Pada bulan Juli 2016 dilakukan penunjukan pengumuman, yaitu PT DJM dan dilanjutkan dengan kontrak antara TNI AU dan PT DJM dengan nilai kontrak Rp738 miliar. Pengiriman helikopter dilakukan sekitar Februari 2017," ucap Basaria.
 
Basaria menyatakan sebagai bentuk pertanggungjawaban KPK pada publik sebagaimana diatur di dalam Pasal 20 UU No. 30/2002 tentang KPK, maka KPK berharap masyarakat tetap mengawal penanganan perkara ini dan kinerja KPK secara umum.
 
Sebelumnya, dalam kasus tersebut, POM TNI sudah menetapkan tiga tersangka, yaitu Marsekal Madya TNI FA yang bertugas sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) dalam pengadaan barang dan jasa, Letkol admisitrasi WW selaku pejabat pemegang kas atau pekas dan Pelda SS staf pekas yang menyalurkan dana kepada pihak-pihak tertentu.
 
Perseroan Terbatas (PT) Diratama Jaya Mandiri adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa peralatan militer nonsenjata yang juga memegang lisensi dari Amerika Serikat untuk terlibat dalam bisnis di bawah peraturan kontrol ekspor peralatan militer dari AS dan lisensi (big trade business licence, SIUP). (Ant)
Share
Berita Terkait
  • 2 minggu lalu

    Karhutla, Satgas Tempatkan Satu Unit Helikopter di Dumai

    RIAU, NNUSANTARA - Satuan tugas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Riau menempatkan satu unit helikopter jenis MI-172 ke K
  • 3 minggu lalu

    Sebanyak enam unit helikopter BNPB Siaga Awasi Kahutla Riau

    PEKANBARU - Sebanyak enam unit helikopter diberikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperkuat satuan tugas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan
  • 4 minggu lalu

    BNPB siagakan lima helikopter tanggulangi kebakaran hutan Riau

    NUSANTARA, - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiagakan sebanyak lima unit helikopter berukuran besar sebagai upaya mengantisipasi dan menanggulangi bencana k
  • 2 bulan lalu

    Karhutla, Kementerian LHK Tarik Helikopter Bell 412 PK-TVW dari Riau

    PEKANBARU, - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menarik helikopter Bell 412 PK-TVW ke Jakarta. Helikopter itu bertugas sejak 17 Januari 2017 di Riau untuk me
  • Komentar
    situspoker situspoker
    Copyright © 2012 - 2017 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.