Rabu, 05 Oktober 2016 15:50:00

Berebut Tuah Kota Bertuah

Suhardi
 
Oleh : Suhardi
Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana UKM Malaysia
 
Sejak beberapa bulan terakhir kursi Pekanbaru 1 menjadi incaran banyak orang. Mulai dari yang berlatar belakang politisi, akedemisi, birokrat, hingga artis pun turun merumput dalam berebut ‘tuah’ Pekanbaru 1. Saking banyaknya  calon yang muncul, setiap sudut kota penuh dengan baliho, spanduk dan stiker yang memajang gambar calon-calon Walikota Pekanbaru. Alhasil, membuat publik bertanya-tanya. Siapakah dari mereka yang akan memperoleh ‘tuah’ untuk duduk di singgasana Pekanbaru 1?.
 
Kini, wajah yang banyak itu mulai mengerucut seiring keluarnya keputusan partai politik dan telah mendaftarnya calon di KPU Kota Pekanbaru. Yakni, pasangan sang petahana,  Dr Firdaus MT-Ayat Cahyadi, S.Si yang diusung oleh koalisi Partai Demokrat, PKS dan Gerinda dengan perolehan 13 kursi. Dr Ramli Walid-Irvan Herman yang diusung oleh Partai Golkar,PAN, PKB, Hanura dan Nasdem dengan perolehan 23 kursi. Kemudian pasangan Dastrayani Bibra-Said Usman Abdullah yang diusung PDI-P dan PPP dengan perolehan 9 kursi. Dan 2 pasangan calon dari jalur independen, yakni Syahril-said Zohirin dan Herman Nazar-Deviwarman. Nama-nama tersebutlah yang sekarang sedang menjemput dan berebut tuah kota bertuah.
 
Sebagai ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru memiliki peran signifikan dan strategis. Mengingat Pekanbaru menjadi tumpuan investasi. November 2015 saja, Pekanbaru mencatat jumlah investasi penanaman modal dalam negeri sebesar Rp 3,8 triliun. Bahkan pertumbuhan penduduknya di atas rata-rata pertumbuhan nasional. Pada tahun 2006 saja, jumlah penduduk di Pekanbaru tercatat sebanyak 754.467 jiwa, tahun 2007 berjumlah 779.899 jiwa, tahun 2008 tercatat 799.213 jiwa, tahun 2009 sebanyak 802.788 jiwa dan tahun 2010 jumlah penduduk di Pekanbaru sudah mencapai 903.902 jiwa, dan terkahir 2015 sudah mencapai 1,1 jiwa lebih. Beragam potensi ini, sesungguhnya kian membuat Pekanbaru menjadi kota yang memiliki banyak “tuah”.
 
Sekarang, tuah Pekanbaru sedang diburu dari segala arah, hanya saja kita berharap dalam memburu tuah jangan sampai menghalalkan segala cara yang akan menyebabkan tuah berubah  murka. Untuk itu para pemburu tuah, harus tahu apa itu tuah Pekanbaru, sehingga ketika berhasil menduduki kursi singgasana tidak melakukan tingkah yang akan membuat tuah Pekanbaru semakin ranap dan hilang. Setidaknya tuah Pekanbaru itu melekat dalam beberapa hal. Pertama, tumbuh suburnya akar Melayu dalam laku masyarakat Pekanbaru. Laku Melayu adalah laku yang berbudaya dan penuh nilai-nilai luhur. Walaupun etnis yang mendiami tanah ini tidak lagi di dominasi oleh suku Melayu, namun menghilangkan jati Melayu akan membuat tuah itu akan semakin berkurang. Dalam pandangan orang Melayu, tuah memiliki makna yang mendalam yang dianugerahkan sang pemilik kehidupan. Dan tuah itu hanya diberikan, ketika laku hati dan perbuatan selaras dengan aturan-aturan Tuhan.
 
Kedua, kesejahteraan. Pemerintah sejatinya hadir untuk menyejahterakan masyarakat bukan membiarkannya tanpa perhatian yang mendalam. Membangun Pekanbaru bukan hanya setakat infrastruktur, tapi juga membangun masyarakatnya agar bisa hidup dalam alam kelayakan. Layak dari sisi ekonomi dan juga layak dari aspek layanan kehidupan bermasyarakat. Untuk itu, sejahtera jangan hanya tercatat dalam bingkai emas visi dan misi, tapi harus menjunam dalam kehidupan nyata masyarakat.
 
Ketiga, keadilan. Berlaku adil dalam memimpin menjadi syarat utama dalam menaiki tangga kepemimpinan. Adil itu harus terpampang terang dalam setiap kebijakan yang diambil. Seperti yang diungkapkan oleh Yusuf Qaradhawi  “memberikan kepada segala yang berhak akan haknya, baik secara pribadi atau secara berjamaah, atau secara nilai apa pun, tanpa melebihi atau mengurangi, sehingga tidak sampai mengurangi haknya dan tidak pula menyelewengkan hak orang lain”. Hal ini penting mengingat pemimpin adil adalah dambaan masyarakat. Dia berdiri di tengah-tengah masyarakat. Kalaupun dia pemimpin partai politik atau organisasi, namun ketika dia telah duduk sebagai Walikota Pekanbaru. Ia adalah pemimpin semua masyarakat. Artinya, ia harus memberikan keadilan kepada rakyat tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, maupun politik.
 
Keempat, amanah. Melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan dengan penuh tanggungjawab. Tidak melakukan kebohongan atau manipulasi kebijakan untuk kepentingan diri sendiri, kelompok atau golongannya. Memahami bahwa jabatan itu adalah beban yang harus ditunaikan untuk kepentingan semua rakyat. Bukan malah sebaliknya amanah dipahami setakat tugas yang dengan bebas dijalankan menurut ego politik sang pemimpin sendiri. Alhasil, berlaku semena-mena, otoriter dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari jabatan, dan akhirnya terjerat dalam perangkap korupsi, kolusi dan nepotisme. Ujung-ujungnya menginap di balik jeruji besi.
 
Keberadaan tuah, terutama dalam kehidupan masyarakat Melayu sangat menentukan sekali. Seperti tergambar dalam ungkapan tuah negeri. Tuah haruslah melekat dalam setiap kepemimpinan anak negeri. Kalau tuah sudah tercerabut dalam akar kepemimpinan alamat tuah-tuah yang lain seperti berlimpahnya sumber daya alam yang dianugerahkan Tuhan tidak akan berdampak apa-apa. Negeri ini akan terus disebut orang sebagai negeri yang kaya dan bertuah, namun rakyatnya tetap tidak sejahtera. Untuk itu mari kita memilih pemimpin yang benar-benar membuat negeri ini, tidak hanya bertuah dalam rangkaian kata, tapi benar-benar bertuah bagi segenap tumpah darah. Wallahu’alam ****(ABU)
 
 
Share
Berita Terkait
  • 5 bulan lalu

    Ditutup Semalam, Tiga Paslon Independen Resmi Mendaftar ke KPU Pekanbaru

    PEKANBARU, RIAU, - Di penghujung waktu penutupan pendaftaran calon perseorangan pada, hari ini Kamis, 11 Agustus 2016. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pekanbaru menerima d
  • Komentar
    situspoker situspoker
    Copyright © 2012 - 2017 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.