Selasa, 18 April 2017 07:02:00

Islam Tidak Membenarkan Berita Bohong Ini Dalilnya.

Riauone.com-Merebaknya berbagai berita bohong atau lebih dikenal dengan istilah dalam Bahasa Inggris dengan hoax sudah sampai pada taraf yang sangat mengganggu. Mengenai pengertian dan contoh dari berita bohong ini silahkan cari dengan menggunakan berbagai macam fasilitas pencari yang tersedia di Internet.
 
Sebenarnya apa saja dalil-dalil di dalam Islam yang menolak keberadaan berita bohong ini? Berikut adalah beberapa dalil terkait dengan penolakan Islam terhadap berita bohong.
 
Sumber dari Al Quran
 
Surat Al Alaq ayat 1 – 5 dengan jelas memerintahkan manusia untuk membaca. Jadi semua berita dan informasi yang kita dapatkan harus dibaca dan dipahami kebenarannya.
 
Surat Al Hujurat ayat 6 yang kira-kira artinya adalah “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
 
Surat An Nur ayat 12 yang kira-kira artinya adalah “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang² mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”
 
Surat An Nur ayat 15 yang kira-kira artinya adalah “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yg tidak kamu ketahui sedikit juga & kamu menganggapnya suatu yg ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”
 
Surat An Nur ayat 16 yang kira-kira artinya adalah “Alangkah baiknya ketika kamu mendengar berita itu kamu kata­kan saja: Tidak sepatutnya kami membicarakan berita bohong ini. Amat Suci Engkau ya Tuhan, berita ini adalah bohong besar belaka !“
 
Surat Al Isra ayat 36 yang kira-kira artinya adalah “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawabannya”.
 
Surat Al Qalam ayat 10-13 yang kira-kira artinya adalah “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian-kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu yang terkenal kejahatannya.”
Sumber dari hadis
 
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah senang pada kalian tiga hal, dan benci pada kalian tiga hal. 1) Allah senang pada kalian bahwa kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. 2) Allah senang bahwa kalian semua berpegang teguh kepada tali Allah,dan 3) Allah senang kalian tidak bercerai-berai. Dan Allah benci kepada kalian tiga hal.
 
1) Allah benci pada kalian “Katanya dan katanya”, 2) Allah benci kalian banyak bertanya (yang tidak diamalkan), dan 3) Allah benci kalian menyia-nyiakan harta”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1340].
 
“Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta jika ia mengatakan setiap hal yang dia dengar”. [HR. Muslim No. 4482]
“Barang siapa yang berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka [HR. Abu Daud no. 3166].
 
Dari ‘Isa bin Dinar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ayahku, bahwa ia mendengar Al-Harits bin Dlirar Al-Khuza’iy berkata : Saya datang kepada Rasulullah SAW, lalu beliau mengajakku untuk masuk Islam, maka aku pun masuk Islam dan mengikrarkannya. Kemudian beliau mengajakku untuk mengeluarkan zakat, maka aku pun mengikrarkannya.
 
Dan saya pun berkata, “Wahai Rasulullah, saya akan pulang kepada kaumku untuk mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Maka barangsiapa yang menyambut panggilan da’wahku, aku akan mengumpulkan zakat yang dikeluarkannya, lalu Rasulullah SAW bisa mengutus seorang utusan untuk waktu yang telah ditentukan demikian dan demikian untuk mengambil zakat yang telah saya kumpulkan.
 
Ketika Al-Harits telah mengumpulkan zakat dari orang yang menyambut panggilan da’wahnya, dan telah sampai waktu yang disepakatinya dengan Rasulullah SAW untuk mengutus utusannya, ternyata utusan tersebut tidak datang kepadanya. Kemudian Al-Harits mengira bahwa telah terjadi kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, maka Al-Harits pun mengumpulkan para hartawan dari kaumnya, lalu ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah menentukan suatu waktu untuk mengirim utusan kepadaku untuk mengambil zakat yang telah aku kumpulkan, dan Rasulullah SAW tidak pernah menyelisihi janjinya. Dan aku mengira bahwa tidak datangnya utusan beliau itu adalah pertanda dari kemurkaan beliau.
 
Maka sekarang berangkatlah kalian, kita akan datang kepada Rasulullah SAW.Dan Rasulullah SAW telah mengutus Al-Walid bin ‘Uqbah kepada Al-Harits untuk mengambil zakat yang telah dikumpulkan oleh Al-Harits. Tetapi setelah Al-Walid berangkat, di tengah perjalanan ia merasa takut (karena di masa Jahiliyyah telah terjadi permusuhan antara dia dengan kaum tersebut), lalu ia kembali. Kemudian Al-Walid menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Al-Harits telah menolakku untuk mengambil zakat dan bahkan akan membunuhku”. Maka Rasulullah SAW lalu mengirim rombongan untuk menemui Al-Harits
 
Padahal Al-Harits dan rombongannya telah berangkat ke Madinah untuk menghadap Nabi SAW. Ketika utusan Rasulullah SAW sampai di luar Madinah, Al-Harits bertemu dengan mereka, lalu mereka berkata, “Inikah Al-Harits ?”. Maka setelah Al-Harits mendekati mereka, lalu ia bertanya, “Kepada siapakah kalian diutus ?”.
 
Mereka menjawab, “Kepadamu”. Al-Harits bertanya lagi, “Kenapa ?”. Mereka menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengirim Al-Walid bin ‘Uqbah kepadamu, lalu dia mengatakan bahwa kamu telah menolaknya untuk mengambil zakat, bahkan kamu akan membunuhnya”. Maka Al-Harits berkata, “Tidak, demi Allah yang mengutus Muhammad dengan membawa kebenaran, sesungguhnya kami sama sekali tidak melihatnya, bahkan dia tidak datang kepadaku”.
 
Setelah Al-Harits menghadap Rasulullah SAW, beliau bersabda kepada Al-Harits, “Wahai Al-Harits, mengapa kamu menahan zakat dan akan membunuh utusanku ?”. Lalu Al-Harits menjawab, “Tidak, demi Allah yang mengutus engkau dengan membawa kebenaran, saya tidak melihatnya dan dia tidak datang kepadaku.
 
Bahkan kami tidak datang ke sini melainkan karena utusan Rasulullah SAW tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, dan saya takut bahwa itu pertanda kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya (kepada kami)”. (Perawi berkata), lalu turunlah ayat dalam QS.
 
Al-Hujuraat (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu mushibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”…..hingga “sebagai karunia dan ni’mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Hujuraat : 6-8). [HR. Ahmad juz 6, hal. 396, no. 18486]. (*).
Share
Berita Terkait
Komentar

Copyright © 2012 - 2017 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.