• Home
  • Politik
  • Saiman Pakpahan : Partai Golkar Rapuh di Bawah pimpinan Setya Novanto Tersangka Dugaan Korupsi E-KTP
Minggu, 24 September 2017 12:16:00

Saiman Pakpahan : Partai Golkar Rapuh di Bawah pimpinan Setya Novanto Tersangka Dugaan Korupsi E-KTP

Pekanbaru-Partai Golkar Disebut-sebut partai politik yang kuat dan besar fi zamannya. Tapi agaknya  sekarang tidak lagi. Partai yang dikomandoi Setya Novanto tersangka kasus dugaan korupsi e-ktp belakangan goyang akibat prahara yang menimpanya. Bagaimana politik Golkar di Pilgubri 2018? 
 
Suhu politik di ruang kontestasi pemilihan gubernur Riau 2018 mulai memanas bahkan nyaris mencapai titik nadir. Berawal dari ditetapkan nya Arsyadjuliandi Rachman sebagai bakal calon Gubernur Riau oleh DPP Golkar belum lama ini. 
 
Penetapan tersebut mengundang banyak tanya baik dalam internal maupun eksternal. Sebab hingga saat ini Andi Rachman yang juga Ketua DPD I Golkar Riau masih belum memiliki pasangan yang pas. Itulah sebabnya DPP Golkar hanya memberi semacam rekomendasi kepada Andi Rachman untuk mencari calon pendamping nya dan diminta untuk menaikkan elektabilitas nya yang rendah sebagai Incumbent. 
 
Untuk menindaklanjuti keputusan DPP Golkar tersebut, partai Golkar Riau menggelar Rapat Kerja Daerah (Rakerda)  dengan mengambil tempat di hotel Sapadia, Pasirpangaraian Rokan Hulu, wilayah kekuasaan bupati Suparman Ssos. 
 
Entah apa penyebabnya, rakerda itu sempat diwarnai kekisruhan, namun akhirnya bisa diredam. Dan diujung acara Andi Rachman menerima Surat dari DPP Golkar yang dibungkus dalam map kuning dan diserahkan oleh Idris Laena dalam kapasitas sebagai koordinator wilayah Sumatera.
 
Kekisruhan Rakerda yang diduga dipicu munculnya rakerda tandingan atau dua kubu itu memantik perhatian publik dan secepat kilat beredar di media sosial maupun media online dengan ragam isi dan versi. 
 
Pengamat politik Riau Saiman Pakpahan mengatakan, Partai golkar adalah partai yang relatif tua dan ikut dari awal mewarnai seting politik Indonesia. Namun kelihatan bahwa partai golkar secara kelembagaan sangat rapuh. 
 
"Ada kesan, secara kelembagaan partai golkar tidak menjalankan fungsi fungsi  dasar sebagai organisasi kepartaian. Harusnya partai setua ini sarat dengan debat nilai nilai ideologis dan peradaban, bukan sebaliknya, sarat kepentingan antar kader dan manajemen saling sikut menjadi pola yang terbangun dipermukaan, " ulas Saiman. 
 
Dikatakannya, pada level nasional, kita melihat bagaimana deal politik tingkat dewa antara Ade Komarudin alias Aom dan Setnov. Lalu bagaimana Setnov tersangka.. menjelaskan bahwa partai ini di hegemoni oleh kepentingan orang yang sedang berkuasa di partai. "Bukan atas dialektika organisasi kepartaian," kata Saiman. 
 
Lalu bagaimana tarikan politik nya ke Pilgubri? Kata Saiman ini menjadi pekerjaan rumah luar biasa bagi calon yang menumpangi perahu golkar karena tensi polarisasi cukup kental terbelah. 
 
"Energi organisasi akan berpotensi tergerus untuk membangun agenda rujuk politik. Kapal yang besar oleh sejarah, tapi tidak disertai dengan konsolidasi internal yang rigid, " papar Saiman mantap. 
 
Nah, dalam kondisi tidak terkonsolidir,  maka kapal ini (baca:Golkar) berpotensi memiliki kapten lebih dari satu." Sehingga tujuan pulau kekuasaan menjadi tereduksi akibat "conflict of interest" secara internal. (berazam.com) 
Share
Komentar
vipqiuqiu99 vipqiuqiu99

Copyright © 2012 - 2017 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.