• Home
  • Kilas Global
  • "Indonesia Terserah, suka2 kalian saja", Kritik untuk Pemerintah dan Pengingat untuk Kita Semua...
Senin, 18 Mei 2020 09:10:00

"Indonesia Terserah, suka2 kalian saja", Kritik untuk Pemerintah dan Pengingat untuk Kita Semua...

NASIONAL, - Sejak Jumat (15/5/2020), media sosial berbagai platform diramaikan dengan tanda pagar alias tagar #IndonesiaTerserah. 

Warganet menyuarakan kekecewaan mereka tentang kebijakan pemerintah yang dianggap melonggarkan pergerakan masyarakat menjelang Lebaran.

Di media sosial Twitter, twit yang diunggah tak hanya mengkritik pemerintah, tetapi juga perilaku sebagian masyarakat yang tak disiplin dengan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Mereka meramaikannya dengan unggahan foto tenaga medis membawa tulisan "Indonesia Terserah".

Kritik kebijakan pelonggaran pembatasan

Kritik atas kebijakan pemerintah muncul dalam sepekan terakhir ketika pemerintah memutuskan mengoperasikan kembali seluruh moda transportasi umum.

Meski menyatakan kebijakan ini hanya berlaku untuk masyarakat kategori tertentu, kenyataannya terjadi penumpukan calon penumpang di Bandara Soekarno-Hatta untuk berbagai daerah tujuan.

Muncul pula dugaan jual beli surat bebas Covid-19.

Hal ini memunculkan kekhawatiran di kalangan tenaga medis, termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Para tenaga medis khawatir pelonggaran ini membuka peluang meningkatnya penyebaran virus corona. 

Anggota Bidang Kesekretariatan, Protokoler, dan Publik Relation Pengurus Besar (PB) IDI, Dr Halik Malik mengatakan, ada kekhawatiran pemudik yang tetap nekat pulang akan membawa virus corona ke kampung halamannya.

PB IDI berharap, ada protokol kesehatan yang dijalankan, seperti karantina 14 hari bagi mereka yang datang dari luar kota dengan pengawasan pemerintah daerah. 

PB IDI juga mengusulkan restriksi transportasi massal. Artinya, melarang alat transportasi massal darat, laut, udara beroperasi sementara terutama menjelang Lebaran.

"Karena kalau imbauan saja tidak efektif. Perlu restriksi, (yaitu) tidak ada yang bisa keluar atau stop transportasi massal ke lokasi mudik," kata Halik, seperti diberitakan Kompas.com, Sabtu (16/5/2020).

PB IDI juga meminta agar pemerintah tidak melonggarkan PSBB sampai ada data pendukung yang tepat hingga indikator dan kriteria terpenuhi, baik itu indikator medis, epidemologis, dan sistem kesehatan.

Sementara itu, Guru Besar Psikologi Sosial UGM Prof Faturochman menilai, munculnya "Indonesia Terserah" merupakan bentuk protes para tenaga medis terhadap pemerintah dan masyarakat.

Menurut dia, para tenaga medis sejak awal berharap ada kebijakan yang tegas dari pemerintah.

"Indonesia Terserah" dinilainya sebagai puncak kekesalan setelah melihat penumpukan penumpang yang mengabaikan jarak sosial di Bandara Soekarno Hatta Terminal 2 setelah dioperasikannya transportasi umum.

Tak hanya kepada pemerintah. "Indonesia Terserah" juga dianggap sebagai kritik atas perilaku sebagian masyarakat yang dianggap tak disiplin dengan protokol kesehatan.

Ketidakpatuhan itu, misalnya, menjaga jarak sosial, memakai masker, tetap di rumah saja, dan mematuhi aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Seandainya PSBB dijalankan, semua saling mendukung, saya yakin baik-baik saja," ujar Fatur.

Hal yang sama juga diungkapkan sejumlah pengguna Twitter yang memotret ketidakdisiplinan di ruang publik pada masa pandemi virus corona ini.

Ada yang menyebutkan, jalanan mulai ramai menjelang Lebaran, bahkan ada pasar kaget.

Selain itu, sorotan terhadap sikap abai keselamatan diri dan orang lain karena ada yang tidak menggunakan masker.
sumber: Kompas.com

Share
Berita Terkait
Komentar

Copyright © 2012 - 2020 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.