Jumat, 18 Mei 2018 13:38:00

Apakah Sehat Jika Tidur Seharian Saat Puasa?

Ilustrasi
Loading...

RIAUONE.COM - Sebulan penuh menjalani puasa, menahan haus dan lapar sekitar hampir 13 jam menjadi kewajiban bagi umat muslim.

Saat puasa, kita mengalami beberapa perubahan seperti pola makan, waktu tidur, dan aktivitas sehari-hari sehingga dapat memengaruhi jam biologis dan metabolisme tubuh.

Perubahan waktu tidur membuat kita lebih sering merasa ngantuk dan akhirnya memilih untuk tidur seharian untuk menghilangkan rasa kantuk itu. Namun, apakah tidur saat puasa benar-benar membuat kita hilang dari ngantuk?

Saat puasa banyak dari kita yang mengubah pola aktivitas. Kegiatan seperti makan, minum, berkumpul dengan kerabat, dan olahraga seringkali dilakukan setelah berbuka puasa hingga malam hari.

Selain itu, bangun pagi untuk sahur seringkali membuat waktu tidur lebih pendek. Meski tidak parah, perubahan ini dapat memengaruhi waktu tidur saat puasa.

Tak jarang saat puasa orang lebih terjaga di malam hari, dan merasa ngantuk di pagi hari. Sehingga, beberapa orang menghabiskan waktu liburnya di kasur dari pagi hingga siang, bahkan sampai menjelang waktu berbuka.

Sebenarnya, terlalu sedikit atau terlalu banyak tidur dapat membuat tubuh jadi lebih lelah. Masuk akal jika kurang tidur membuat merasa lelah.

Sebaliknya, tidur lebih banyak daripada yang kita butuhkan juga tidak membuat segar dan bersemangat. Bahkan, banyak orang merasa lesu karena tidur seharian saat puasa.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa orang yang terlalu banyak tidur justru akan tergganggu pola tidur dan jam biologis tubuhnya (ritme sirkadian). Hal ini yang kemudian menyebabkan seseorang jadi cenderung kelelahan setelah seharian tidur.

Sebaiknya, atur waktu tidur saat puasa dengan baik

Tidur memiliki siklus, yang berlangsung antara 80-120 menit atau rata-rata 90 menit tiap siklusnya. Dalam satu siklus tidur, terdapat beberapa tahapan tidur yang tentu akan memengaruhi pola tidur saat puasa.

Tahapan siklus tersebut yaitu siklus satu, dua, tiga, empat dan REM (rapid eye movement). Jika saat tidur kita berada pada siklus satu dan dua, maka ini adalah saat paling mudah untuk dibangunkan.

Sedangkan jika memasuki siklus REM ini kondisi saat kita agak sulit dibangunkan, dan siklus tiga serta empat merupakan tahapan paling sulit untuk dibangunkan.

Pada saat kita memperpanjang waktu tidur, yaitu satu hingga dua jam dari waktu normal, maka kita akan memasuki siklus tiga, empat atu REM.

Karena memasuki siklus yang sulit dibangunkan, alhasil saat bangun tidur, kita tidak merasa segar atau bahkan lebih buruk dari sebelum tidur.

Cara terbaik untuk mengembalikan pola tidur ketika puasa adalah mencari tahu berapa jam tidur yang tepat dan kemudian melakukannya dengan baik, bahkan saat di waktu libur atau akhir pekan. (NET/halosehat).

Share
Loading...
Komentar

Copyright © 2012 - 2018 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.