• Home
  • Kilas Global
  • Integrasi Pelabuhan, Tingkatkan Efisiensi dan Daya Saing Topang Sektor Riil Pacu Pertumbuhan Ekonomi
Sabtu, 11 September 2021 14:58:00

Integrasi Pelabuhan, Tingkatkan Efisiensi dan Daya Saing Topang Sektor Riil Pacu Pertumbuhan Ekonomi

kapal tanker sandar dan masuk ke pelabuhan umum pelindo dengan kapasitas 40 ribu GT dan 80 ribu GT. F/riauonecom

Pemerintah mengambil langkah strategis, melakukan integrasi (penggabungan) BUMN Pelabuhan, PT Pelabuhan Indonesia I, II, III, dan IV dalam suatu entitas. Jelas langkah ini akan memberi nilai tambah bagi bisnis kepelabuhanan yang muara akhirnya meningkatkan pendapatan Negara. Lantas  apa keuntungan rencana itu bagi daerah? Berikut tulisannya

DI lorong perumahan yang sepi, Jumat  malam terlihat begitu bersahaja. Suara binatang malam  mengalun pelan dari balik rerimbunan  pepohonan. Seorang lelaki duduk di teras menyampingi jalan. Ia asyik memainkan  laptop. Sementara di gelas kaca berukuran sedang  berisi teh hangat menemani malam yang begitu sejuk dengan angin sepoi-sepoi berhembus manja.

          Malam yang senyap tak membuat teras-teras rumah warga Komplek Perumahan Griya Pulai Sakinah, Kelurahan Mundam, Kecamatan Medangkampai, Kota Dumai, Provinsi Riau, sepi.

Masih ada juga warga menimakti malam seraya merancang angan untuk esok tatkala sang surya terbangun dari peraduan.

Akan tetapi ada juga yang memilih membungkus asa di  peraduan seraya  memetik sepenggal mimpi ditiap detik waktu di balik pintu kamar yang sunyi.

   Agus Budiyanto yang juga Ketua Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Pelabuhan PT Pelindo I Cabang Dumai tetap asyik memainkan perangkat komputer keluaran terbaru.

Pria bertubuh tinggi tegap ini tidak sadar akan kehadiran penulis. Sebuah kalimat salam yang terlontarkan dari penulis menghentankannya.

Ya, malam itu sengaja penulis mendatangi kediamannya untuk melakukan wawancara  seputar penggabungan atau merger PT Pelindo I-IV.

Lantas apa komentar Agus -begitu panggilan akrab Agus Budiyanto, pen- menyikapi rencana itu? Pria yang dikenal aktif dalam sejumlah kegiatan di komplek perumahan itu mengaku setuju dengan langkah besar itu.  

Bukan tanpa sebab, Agus memaknai salah satu esensi dari langkah besar ini, yaitu adanya arus perubahan pada bisnis kepelabuhanan dikaitkan dengan persaingan global.

" Ya, kita harus berubah, kalau tidak kita akan dilibas, karena persaingan global yang begitu ketat,  "katanya.

Lantas perubahan seperti apa yang ia maksud? Agus menjelaskan, dalam seumlah kesempatan dia mewanti-wanti rekannya untuk terus melakukan perubahan-perubahan kearah yang lebih baik.

Salah satunya, sambung dia, masalah sertifikasi. Lebih jauh Agus menjelaskan, untuk semua pekerjaan jika memang dituntut untuk memiliki sertifikasi dalam hal pekerjaan tertentu "Untuk operator forklift, ini misal, telah mengantongi sertifikat. Dan itu tuntutan. Ya, kita berusaha memenuhi standar internasional. Memang, masih ada yang belum itu pun dikarenakan di Dumai tidak ada, dan harus ke Jakarta. Tapi, perlahan tapi pasti kita menuju ke sana," terang Agus.

Agus pun melanjutkan, dirinya setuju bukan lantaran  institusi itu  dibawah binaan PT Pelindo I Cabang Dumai. Namun semata-mata output yang dihasilkan akan berdampak positif terhadap kemajuan sektor kepelabuhanan. "Seperti memudahkan koordinasi,  efisiensi, jasa logistik akan lebih kompetitif dan sebagainya, tentu kita dukung. Apalagi ini menyangkut periuk nasi kami," katanya.

   Memang, rencana pemerintah melakukan sinergi dan integrasi  terhadap  PT Pelindo I s/d PT Pelindo IV disambut positif segenap elemen masyarakat Kota Dumai jika itu bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang nantinya diharapkan bergeraknya sektor riil.

      Namun dibalik rencana itu ada juga yang kuatir terhadap persoalan nasib tenaga kerja (Naker). Kekuatiran yang tidak berlebihan, mengingat salah satu output rencana besar pemerintah itu yakni terciptanya efisiensi. Kata yang ada di benak sebagian masyarakat identik dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Yang terang rencana tersebut tidak menimbulkan PHK dikemukakan Pemerhati Sosial dan Kemasyarakatan Kota Dumai, Irmen Sani.

Aktivis yang juga mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Dumai ini berharap gebrakan yang dilakukan pemerintah dengan melakukan integrasi terhadap sejumlah perusahaan plat merah disektor pelabuhan tidak memakan korban seperti PHK, misalnya.

" Pada dasarnya kita mendukung rencana pemerintah yang terbilang strategis itu jika salah satunya  akan meningkatkan daya saing dan sebagainya. Sebab, kita memahami di era globalisasi seperti saat ini maka terjadi persaingan ketat antara satu Negara dengan Negara lainnya," kata Irmen Sani kepada penulis, Selasa .

Kendati begitu, Irmen Sani mewanti-wanti pemerintah untuk tidak mengambil langkah terbilang pahit bagi pekerja. Diantaranya PHK.


Foto: Pekerja memuat minyak kelapa sawit mentah atau CPO ke dalam kapal tanker di Pelabuhan Dumai, Dumai, Riau, 3 Februari 2021 f -Aswaddy Hamid-Antara

" Wajar jika ada yang kuatir. Sebab, jika kita berbicara efisiensi maka PHK biasanya menyertakan kata itu. Ya, kita berharap itu tidak terjadi. Apalagi di tengah pandemi seperti ini dimana kehidupan kian sulit, karena berpengaruh besar terhadap ekonomi masyarakat,"  ingatnya.

Memang, lanjut Irmen,  menurut Undang-undang (UU) No. 17 Tahun 2008 Tentang  Pelayaran, pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat berkegiatan pemerintah dan perusahaan.

Kendati begitu, ingat dia, pelabuhan memiliki fungsi sosial dan ekonomi. Secara ekonomi, pelabuhan berfungsi sebagai salah satu penggerak roda perekonomian karena menjadi fasilitas yang memudahkan distribusi hasil-hasil produksi termasuk transaksi jual beli dan lainnya.

" Dan ini terjadi sebelum negeri ini merdeka. Bahkan daerah pesisir yang identik dengan pelabuhan tidak hanya berfungsi sebatas ekonomi. Dari sana terbentuklah perkampungan dan selanjutnya berubah menjadi kota atau pusat peradaban baru," ingatnya.

Secara sosial, tambah dia, pelabuhan menjadi fasilitas publik tempat berlangsungnya interaksi antar pengguna (masyarakat) karena adanya aktivitas perekonomian. Alih-alih tak jarang terjadi transformasi nilai-nilai budaya, prilaku dan lainnya.  

" Sejak dulu fungsi pelabuhan sangat sentral terlebih menyangkut ekonomi, karena terjadi jual beli yang juga menyerap tenaga kerja  dan dampak multiplier efect lainnya, ini tidak saat terjadi di Dumai tapi begitu juga dengan pelabuhan di kawasan pesisir di tanah air," katanya. 

Lantas bagaimana dengan asa Irmen Sani dan sejumlah elemen masyarakat terkait kekuatiran adanya PHK menyusul mergernya empat PT Pelindo yakni I- IV.

Rasa-rasanya Irmen Sani dan elemen masyarakat lainnya Kota Dumai bisa bernapas lega. Sebab,   ketua Organization Committee (OC) Integrasi Pelindo Arif Suhartono memastikan penggabungan BUMN pelabuhan itu tidak ada rasionalisasi pekerja.

       Arif Suhartono mengatakan serikat pekerja dan manajemen Pelindo I - IV telah menandatangani kesepakatan terkait dengan  status dan kebijakan yang berlaku baik selama dan setelah integrasi  dilakukan.

Kesepakatan ini, tegasnya,  juga telah mendapat dukungan penuh dari seluruh karyawan dan Serikat Pekerja keempat Pelindo. Setidaknya ada enam poin penting yang telah disepakati oleh manajemen Pelindo dengan serikat karyawan.

" Ini [merger] memang menyangkut  kepentingan ekonomi logistik dan nasional tapi juga ada benefit kepada  korporasi. Kami sampaikan kepada pegawai tidak ada rasionalisasi atau PHK. Kedua terkait perubahan status masa kerja tidak mulai dari nol dan tak ada pengurangan," katanya, dirilis  Kamis.


Foto : dok Pelindo,  salah satu lokasi Pelabuhan Dumai dilihat dari udara 

       Berkaitan dengan status pekerja tersebut, Arif pun memperjelas status karyawan beralih menjadi pekerja di perusahaan penerima penggabungan dengan tetap memperhitungkan masa kerja dari masing-masing pekerja.

Poin ketiga, lanjutnya, tak ada pengurangan penghasilan dan kesejahteraan pegawai. "Memang saat ini ada gap penerimaan penghasilan antara Pelindo I - IV.Pada merger akan disamakan dan tidak ada perbedaan dan pengurangan. Tunjangan THR juga kan disamakan. Pada awal integrasi, skala manfaat mungkin belum bisa instan didapatkan tapi yang jelas sudah ada penaikan yaitu ada adjustment tunjangan kepada pegawai setelah integrasi," imbuhnya sebagaimana dilangsir bisnis.com.

Ada yang menarik statemen Ketua Organization Committee (OC) Integrasi Pelindo Arif Suhartono bahwa gap penerimaan penghasilan antara PT Pelindo I - IV, maka pada merger akan disamakan dan tidak ada perbedaan dan pengurangan termasuk  THR juga akan disamakan.

Menurut hemat penulis ini akan menciptakan kebersamaan yang positif. Paling tidak - mungkin- jika sebelum penggabungan terjadi ego sektoral maupun kecemburuan antar karyawan salah satunya dipicu perbedaan penghasilan notabene - dugaan penulis- menjadi pengganjal saat melakukan koordinasi antar perusahaan.

 Namun dengan adanya persamaan dalam hal  pendapatan maka yang ada yakni kebersamaan untuk meningkatkan laba perusahaan melalui pelayanan prima.  

Tingkatkan Kontribusi Pertumbuhan

       Adalah wajar jika sebagian publik di tanah air bertanya-tanya apa manfaatnya penggabungan PT Pelindo I - IV terlebih dikaitkan dengan kepentingan nasional.

       Jawaban atas pertanyaan itupun muncul  saat digelar acara sarasehan media massa bersama Pelindo yang digelar di Medan, Kamis (1/7/21) Arif Suhartono yang ditunjuk menjadi Ketua Organizing Committe (OC) Integrasi Pelindo menjelaskan bahwa  langkah ini dimaksudkan menciptakan sinergi BUMN Pelabuhan dengan  standarisasi operasional untuk meningkatkan efisiensi logistik nasional.

       Lebih jauh Arif Suhartono yang juga Direktur Utama (Dirut) PT  Pelindo II ini meyakini bahwa lankah Integrasi dan sinergi diyakini menjadi solusi untuk biaya logistik nasional yang masih tergolong tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara lain yakni sekitar 23 persen dari total Gross Domestic Product (GDP) Indonesia.

       " Hal itu disebabkan oleh operasi dan infrastruktur pelabuhan yang belum optimal," katanya.

 Dengan kondisi tersebut, lanjut Arif, pemerintah akan melakukan integrasi  Pelindo untuk meningkatkan konektivitas nasional dan standarisasi pelayanan pelabuhan, layanan logistik yang terintegrasi, serta  meningkatkan skala usaha dan penciptaan nilai BUMN Layanan pelabuhan  melalui keunggulan operasional serta komersial dan keuangan.


Foto:  Ekspor  sejumlah komoditas pertanian  menyambut hari kemerdekaan, Sabtu 14 Agustus 2021, f istimewa - riau.go.id

" Nantinya dengan integrasi ini akan ada pengelompokan atau klaster untuk  kegiatan bisnis sejenis, yang akan dibagi menjadi empat, yaitu: peti kemas, non peti kemas, logistik, serta marine and equipment. Dengan adanya klaster bisnis ini diharapkan nantinya untuk setiap kegiatan ini memiliki layanan dan performansi yang sama sehingga mampu mengelola asset lebih efisien dan menurunkan biaya logistik," jelas Arif

Lantas ada pertanyaan menarik mengemuka mengapa dipilih skema integrasi ketimbang holding, misalnya?

Arif pun menjelaskan, beberapa alasan skema integrasi dipilih dibanding dengan holding seperti BUMN-BUMN lainnya. Mulai dari potensi penciptaan nilai yang efisien dan terkoordinasi secara sistematis, fokus kompetensi yang dimiliki saat ini, tingkat disrupsi yang tidak terlalu tinggi karena  terdapat penyesuaian sinergi secara bertahap dari business as usual, cost  of fund dapat dioptimalkan.

" Dengan sebagai entitas yang lebih besar dan  kuat, entitas penerima penggabungan (surviving entity) bisa mengelola  aset lebih baik dan efisien, serta penggabungan ini bisa segera  diwujudkan karena bisnis yang dimiliki serupa," jelasnya.

Tak sampai disitu manfaat intergrasi perusahaan plat merah itu,  tambah Arif, ke depannya juga diharapkan dapat mendukung pengembangan industri di Kawasan sekitar pelabuhan, hingga lebih jauh mendorong  peningkatan konektivitas hinterland (daerah atau tempat produksi yang terletak di sekitar pelabuhan), volume ekspor impor, dan trafik pelabuhan.

Penggabungan ini, tambah dia, akan meningkatkan posisi Pelindo terintegrasi menjadi operator terminal peti kemas terbesar nomor 8 dunia dengan target throughput peti kemas sebesar 16,7 juta TEUs.

"Melalui efek multiplier ekonomi, integrasi ini akan menumbuhkembangkan distribusi barang dan jasa antar wilayah, yang pada gilirannya disebabkan  oleh indeksi kepuasan pelanggan yang makin tinggi, akan menciptakan investasi-investasi baru. Seiring itu, tenaga kerja bakal terserap lebih banyak, " ujarnya.

Di lain sisi, lanjut Arif, standarisasi produktivitas dan kapabilitas SDM juga ditingkatkan notabene integrasi ini akan meningkatkan kontribusi Pelindo bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu Direktur Utama (Dirut) PT Pelindo I, Prasetyo menambahkan, penggabungan ini akan memberikan potensi yang besar terlebih bakal  lahirnya kreativitas baru.

" Dengan adanya integrasi ini akan lebih banyak penciptaan kreativitas  atau bisnis baru akan semakin besar potensinya. Dan nantinya di line bisnis akan menjadi satu misalnya di bisnis sektor peti kemas, standarisasi menjadi satu, sehingga pelayanan akan menjadi standar baik di Belawan maupun di Makassar", tambah Prasetyo.