• Home
  • Kilas Global
  • Tumpahan Minyak: Pencemaran Balikpapan Lebih Parah dari Peristiwa Balongan
Selasa, 17 April 2018 12:51:00

Tumpahan Minyak: Pencemaran Balikpapan Lebih Parah dari Peristiwa Balongan

kilang pertamina.
Loading...
NASIONAL, - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya memperkirakan pencemaran lingkungan di perairan Teluk Balikpapan akibat tumpahan minyak mentah lebih parah daripada kejadian serupa di Balongan, Indramayu, satu dekade lalu.
 
Menurut dia, tingkat keparahan pencemaran di Balikpapan beserta kerugian yang ditimbulkan di atas tiga kali kejadian di pesisir Indramayu pada September 2008.
 
"Skalanya [Balikpapan] lebih luas. Balongan waktu itu [kerugiannya] hampir Rp100 miliar. Saya juga ingin dapat bayangan. Saya tanya dirjen saya, seberapa besar [kerugian akibat tumpahan minyak di Balikpapan] dibandingkan Balongan. Ah, berkali-kali lipat," ujarnya kepada wartawan di sela-sela rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Senin (16/4/2018).
 
Hingga kini, valuasi kerugian akibat pencemaran yang ditimbulkan oleh kebocoran pipa minyak mentah Pertamina di Teluk Balikpapan masih dihitung. Siti memperkirakan kerusakan mangrove sekitar 40% dari nilai kerusakan ekosistem yang ada.
 
Sebelumnya diberitakan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan segera menerbitkan sanksi administrasi kepada Pertamina sembari menyiapkan gugatan ganti rugi atas pencemaran di perairan Teluk Balikpapan akibat tumpahan minyak.
 
Sanksi administrasi itu berupa keharusan PT Pertamina (Persero) Refinery Unit V Balikpapan melakukan kajian risiko lingkungan dan audit lingkungan wajib dengan fokus pada keamanan pipa penyalur minyak, kilang minyak, dan sarana pendukung.
 
"PT Pertamina RU V Balikpapan juga harus melanjutkan kegiatan penanggulangan tumpahan minyak dan pemulihan lingkungan akibat kebocoran pipa minyak," kata Siti Nurbaya dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR.
 
Berdasarkan temuan hasil pengawasan oleh KLHK, papar Siti, ada ketidakpatuhan yang dilakukan oleh Pertamina dalam dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) mereka.
 
Pertama, dokumen lingkungan tidak mencantumkan dampak penting alur pelayaran pada pipa.
 
Kedua, dokumen lingkungan tidak mencantumkan kajian perawatan pipa.
 
Ketiga, inspeksi pipa tidak memadai atau hanya untuk kepentingan sertifikasi.
 
Keempat, tidak memiliki sistem pemantauan pipa otomatis.
 
Kelima, tidak memiliki sistem peringatan dini. (BIS/*).
Share
Loading...
Berita Terkait
  • 5 jam lalu

    Fraksi PKB Akan Dorong Penyetaraan Guru Swasta dengan Negeri

    RIAUONE.COM, JAKARTA - Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR RI berjanji akan mendorong pemerintah untuk menyetarakan guru swasta dengan Guru Pegawai Negeri Sipil (PNS
  • 9 jam lalu

    LBDH Inhil Dukung Dani 'Nyaleg' ke Provinsi, Iwan Taruna Lanjutkan ke Kabupaten

    RIAUONE.COM, TEMBILAHAN - DPW Laskar Banjar Dalas Hanget (LBDH) Kabupaten Indragiri Hilir mendukung sepenuhnya H Dani M Nursalam sebagai Calon Legislatif (Caleg) Provinsi R
  • 10 jam lalu

    Bupati Kuansing H Mursini Hadiri Ajang Uji Coba Pacu Jalur di Tepian Teluk Bayur Kecamatan Gunung Toar

    KUANSING,- Bupati Kuansing Drs.H.Mursini,M.Si menghadiri acara Lomba Pacu Jalur Ajang Uji Coba di Kecamatan Gunung Toar, Kamis (19/07/2018). Bupati Mursini beserta rombonga
  • 8 jam lalu

    Ali Mochtar Ngabalin Ditunjuk Jadi Komisaris AP I?

    NASIONAL, - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengumumkan perubahan susunan komisaris PT Angkasa Pura I (Persero). Ada tiga nama baru yang menduduki posisi komisa
  • Komentar

    Copyright © 2012 - 2018 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.