• Home
  • Politik
  • Menyelamatkan Ekonomi Rakyat Kecil Dari Kepak Sayap COVID-19
Sabtu, 28 Agustus 2021 13:46:00

Oleh: Komaryatin, S.Pd.

Menyelamatkan Ekonomi Rakyat Kecil Dari Kepak Sayap COVID-19

Ahli filsafat Romawi kuno menggunakan istilah black swan (angsa hitam) untuk menggambarkan fenomena yang tidak mungkin terjadi. Hal tersebut didasarkan pada pengamatan mereka bahwa semua angsa berwarna putih (asumsi) tersebut valid hingga tahun 1790, ketika spesies angsa hitam ditemukan di Australia oleh peneliti Inggris). 

Lebih lanjut, Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan, menjelaskan bahwa black swan adalah suatu peristiwa yang tidak diduga sebelumnya akan terjadi dan setelah peristiwa tersebut terjadi maka efeknya sangat dahsyat dan dapat mengubah dunia untuk selamanya. 

Covid-19, adalah black swan yang kita hadapi saat ini. Sejak masuk ke Indonesia pada Maret 2020, pandemi ini telah mengubah banyak cara hidup kita ke hal-hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Sholat jaga jarak, kemana-mana menggunakan masker dan anak-anak bersekolah dari rumah adalah beberapa di antaranya.

Covid-19 memberikan pukulan telak bagi perekonomian masyarakat kita. Kebijakan PSBB, PPKM darurat PPKM level 1-4 dan sejenisnya tanpa dibarengi dengan kompensasi yang setimpal bagi masyarakat, tak ubahnya seperti mengurung burung di dalam sangkar tanpa dikasih makan. Ada yang masih beruntung bisa bekerja dari rumah dan tetap mendapat gaji, namun lebih banyak lagi masyarakat yang bukan pegawai kantoran yang harus bekerja di pagi hari untuk makan di malam hari. 

Namun demikian, lebih baik menyalakan lilin daripada sekedar mengutuk kegelapan. Banyak hal yang bisa kita lakukan sesuai dengan porsi kita masing-masing untuk membantu menyelamatkan ekonomi rakyat. Seperti semut kecil yang membawa setetes air untuk disiramkan ke api yang membakar Nabi Ibrahim AS. Air itu tentunya tak cukup untuk memadamkan api, tapi setidaknya itu menunjukkan kontribusi kita. Siapa tahu kebaikan kecil tersebut menular, memicu orang lain untuk melakukan hal yang sama atau syukur-syukur menggugah pihak yang berwenang untuk membuat kebijakan yang lebih baik.

Berbagi makanan bagi rakyat kecil, bisa makan adalah hal yang paling utama. Mustahil untuk berbicara mengenai gagasan pada orang yang lapar. Dengan demikian sungguh keliru kalau kepada orang yang untuk makan sehari-hari saja susah malah disuruh ikut pelatihan online. Dalam kondisi darurat seperti ini yang mereka butuhkan adalah makanan bukan pelatihan. 

Setelah masalah perut terpenuhi, baru bisa masuk ke hal-hal yang lain.

Kita bisa berbagi makanan kepada mereka yang membutuhkan. Bisa dengan cara berkeliling, membagikan makanan di lokasi yang tetap setiap harinya (misalnya Masjid), atau sekedar menggantungkan makanan di papan yang ditempeli tulisan bahwa siapa saja boleh mengambil. 

Membeli dari warung tetangga

sangat penting untuk membeli dagangan dari warung tetangga. Tempatnya mungkin sempit, barang yang dijual mungkin tidak lengkap, pengemasannya mungkin tidak rapi. 

Tapi percayalah, seribu dua ribu rupiah yang kita belanjakan disana akan sangat berarti buat mereka. Kalau barang yang dijual harganya sedikit lebih mahal daripada di toko-toko besar tak perlu dipermasalahkan. Keuntungan mereka memang cuma sedikit, mereka jualan untuk cari makan, bukan untuk kaya. 

Pun demikian kalau tidak ada kembalian dan diganti dengan permen. Diterima saja dengan senyuman untuk anak cucu di rumah. Memberi dari mereka membuat kita mendapatkan tiga hal yaitu barang yang dibutuhkan, mempererat silaturahmi dan keutamaan sedekah.

Demikian juga kalau ada tetangga atau kerabat yang posting dagangan. bantulah melariskan dagangan mereka, beli dengan harga wajar, syukur-syukur dilebihkan bayarnya. Jangan malah minta harga kawan. Hal tersebut akan menyulitkan usaha mereka dan menjatuhkan mental mereka. 

Andai kalau belum bisa membeli, bantu dengan share postingan mereka atau memberikan kalimat-kalimat positif yang membuat mereka tetap semangat.

Demikian kalau ada teman yang mencoba berkarya lewat media semisal youtube. Bantulah dengan memberikan like, subscribe serta komen positif. Tak usah terlampau pelit karena like dan subscribe itu gratis sedangkan menyenangkan hati orang itu insya Allah berpahala.

Membeli dari Pedagang Keliling

Tiap hari ada pedagang keliling yang lewat di depan rumah kita. Bermacam-macam barang dijajakan, dari makanan seperti kue-kue, sampai barang-barang seperti remote tv dan baterai jam tangan. 

Usahakanlah untuk membeli barang dagangan mereka. Siapa tahu mereka sudah berkeliling seharian dan belum ada barang yang terjual sedangkan ada anak istri yang belum makan, kontrakan yang belum dibayar dan tagihan listrik yang masih nunggak. Sedikit dari kita bisa jadi sangat berarti bagi mereka.

Ada juga penjual jasa keliling seperti tukang sol sepatu, tukang servis jok motor dan sejenisnya. Mereka adalah pejuang terhormat yang memeras keringat untuk keluarganya. Kepada mereka, ketika kita memang tidak bisa menggunakan jasanya, tak ada salahnya untuk memberikan sedekah. 

Peran media sosial dan gotong royong, gunakanlah media sosial untuk mengkampanyekan kegiatan positif tersebut. Kalau hal-hal konyol dan tidak berfaedah saja bisa viral. Maka kebaikan tentunya lebih layak untuk diviralkan. Siapa tahu itu akan menggugah orang lain untuk melakukan hal yang sama atau untuk ikut berpartisipasi. 

Ada orang yang punya uang tapi tidak punya waktu luang, sebaliknya ada yang punya tenaga dan waktu luang tapi memiliki keterbatasan dana. 

Disinilah pentingnya gotong royong. Yakinlah bahwa masih banyak orang baik di negeri ini. Ketika masyarakat bersatu dan bergotong royong serta menjalankan peran sesuai kapasitasnya masing-masing maka dampak Covid-19 bagi ekonomi rakyat bisa diminimalisir.

Laporan: Masroni

Share
Komentar
Copyright © 2012 - 2021 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.