• Home
  • Politik
  • Sandi Uno dan Erick Thohir : Perubahan Politik Indonesia?
Sabtu, 15 September 2018 06:46:00

Sandi Uno dan Erick Thohir : Perubahan Politik Indonesia?

sandi dan erick bertemu di suatu acara mantenan
Loading...
 
Oleh: Fachry Ali, Cendekiawan Muslim
 
NASIONAL, - Karena bertemu sekali-kali, saya tak kenal mendalam dengan Sandiaga Uno dan Erick Thohir. Pertama kali bertemu Sandi, rasanya, pada 2001. Di Makkah, saya melihat serombongan anak muda bersedia mencukur rambut hingga botak. Salah satunya adalah Sandi.
 
Kami, pada 2001 itu, memang satu rombongan haji. Erick? Rasanya kami pernah menjadi narasumber ANTV untuk acara “Sahur” sekitar 2002. Saya sempat berseloroh bahwa “Hanamasa”, restoran Jepang miliknya, berarti “tidak masak” di dalam bahasa Aceh.
 
Erick tertawa sambil mengundang saya makan di situ, yang belum terlaksana hingga kini. Sebagaimana dikenal publik, kedua tokoh muda itu adalah pengusaha.
 
Pada sebuah pesta pernikahan putri kawan saya, Hermanto Dardak, penulis bertemu Sandi, empat atau lima tahun lalu. Disaksikan Emil Dardak (kini wagub terpilih Jatim), saya menyarankan Sandi masuk ke dalam dunia politik sejak awal.
 
“Indonesia,” ujar saya, “perlu pemimpin melek dalam ilmu pengetahuan. Di masa depan,” lanjut saya, “kita tidak bisa lagi memilih pemimpin seperti membeli kucing dalam karung.” Saya diingatkan percakapan ini oleh Emil Dardak dua kali.
 
Pertama, ketika Anies Baswedan-Sandi menang dalam pertarungan gubernur DKI Jakarta. Kedua, ketika Sandi dipilih Prabowo sebagai cawapresnya. Untuk yang terakhir ini, pada mulanya saya tak percaya.
 
Saya tak pernah bertemu Erick setelah yang pertama. Berita mencolok yang saya dengar usahanya makin berkembang. Ini membuat ia mampu membeli klub sepak bola terkenal Italia. Lalu, oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ditunjuk menjadi ketua Panitia Asian Games 2018.
 
Memiliki klub sepak bola di Eropa dan berhasil “gemilang” menyelenggarakan acara olahraga tingkat Asia, membuktikan adanya kepiawaian tertentu pada Erick. Ini tidak hanya terbatas pada kemampuan manajerial, juga adaptasinya pada visi mondial.
 
Di atas itu, kemampuannya mencuri celah kreatif dalam struktur pertarungan mondial itu. Harus diakui, jarang ada tokoh muda Indonesia memiliki kemampuan tingkat ini.
 
Ringkasnya, Sandi dan Erick adalah dua tokoh muda Indonesia yang melangkah ke dalam dunia baru bisnis, di mana model yang dikenakan bukan merupakan warisan generasi bisnis sebelumnya. Tiba-tiba, keduanya memasuki dunia politik dengan cara “dramatik”.
 
Mengapa “dramatik”? Karena keduanya memasuki dunia itu tanpa jejak sebelumnya. Mendahului Erick, Sandi terjun dengan “sukses” ke dalam dunia politik sebagai calon wagub DKI Jakarta dan melalui pertarungan “seru” mengalahkan lawan yang telah kawakan dalam dunia politik. Setahun kemudian, langkahnya kian “dramatik” dengan menjadi cawapres bagi Prabowo Subianto.
 
Erick “menyusul” langkah Sandi ?setelah menggoreskan sukses besar dalam kerja teknikal: Ketua Panitia Asian Games? dengan menjadi ketua pemenangan pilpres untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.
 
Maka, selain Jokowi, Erick menjadi tokoh paling bertanggung jawab bagi keberhasilan pejawat presiden ini mencapai cita-citanya: terpilih presiden di negara terbesar Asia Tenggara untuk kedua kalinya. Seperti Sandi, posisi strategis Erick ini akan membuatnya tak lagi bisa lekang dari dunia politik, dalam pengertian sebenarnya.
 
Tanda apa yang tersingkap dengan kemunculan Sandi-Erick ini dalam jagat politik Indonesia? Dalam konteks “klise”, kita mengatakan ini adalah respons terhadap perubahan struktur demografi Indonesia yang kian “memuda”.
 
Perubahan demografi membawa budaya baru yang tak identik dengan generasi sebelumnya. Terfasilitasi perkembangan pesat teknologi komunikasi, budaya baru yang teranut generasi muda itu menuntut model ketokohan baru yang tak terkait dengan yang lama.
 
Dalam percaturan politik menjelang Pilpres 2019, tak ada tokoh muda lainnya yang memenuhi standar budaya baru yang berkembang dalam sruktur yang kian “memuda” itu selain Sandi dan Erick.
 
Dalam struktur demografi kaum yang disebut milenial ini, kinerja Sandi dan Erick ?menggunakan frasa dalam dunia pertambangan? telah bersifat proven (terbukti). Namun, seperti yang telah disebut di atas, nalar ini bersifat klise.
 
Yang sebenarnya terjadi adalah pemudaran parpol itu sendiri di dalam lanskap imajinasi dan struktur berpikir masyarakat Indonesia. Sejak kemunculan Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, peranan parpol mereproduksi pemimpin yang diterima publik kian melemah.
 
Kemunculan Anies Baswedan-Sandi dalam pertarungan Jakarta pada 2017, kemenangan beberapa tokoh nonparpol di dalam pilkada serentak pada 2018, kian menguatkan kesan kita bahwa parpol dewasa ini pada esensinya tinggal “kerangka kosong” tanpa isi.
 
Benar, secara harfiah parpol adalah kumpulan manusia dalam jumlah banyak. Namun, budaya elite parpol dewasa ini mempertontonkan “kemunduran” daripada “kemajuan”. Bagaimana tidak “mundur”?
 
Bandingkanlah mereka dengan pemimpin pergerakan sejak 1908, 1930-an, dan pemimpin parpol awal kemerdekaan hingga akhir 1950-an. Bukankah para pemimpin terdahulu itu terdiri atas kaum inteligensia, memiliki semangat berkorban dan pribadi-pribadi berintegritas?
 
Dalam arti kata lain, para pemimpin pergerakan dan parpol itu mampu menciptakan model “ideal” rujukan generasi penerus. Ini menjelaskan mengapa HOS Tjokroaminoto, Agus Salim, Sukarno, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, Sjahrir, dan lainnya hingga kini tetap menjadi model, meski kemajuan teknologi komunikasi jauh terbelakang dibandingkan dewasa ini.
 
Jadi intinya, perubahan struktur demografi tidak akan menjadi masalah bagi para pemimpin parpol berkemampuan inteligensia. Dengan yang terakhir ini, mereka akan mampu membawa partai adaptif terhadap perkembangan zaman.
 
Pada hemat saya, kegagalan para pemimpin parpol dewasa ini melanjutkan tradisi inteligensia masa lalu itulah yang menyebabkan keberadaan organisasi yang dipimpin menjadi tidak relevan dengan perkembangan zaman.
 
Maka itu, di luar persoalan moral koruptif yang mereka pertontonkan, tanpa peralatan inteligensia, bagaimana parpol mampu mereproduksi calon-calon pemimpin? Kehadiran Sandi dan Erick dalam percaturan politik dewasa ini, antara lain, bisa dipahami dari perspektif ini.
 
Seperti Jokowi, Ahok, Anies Baswedan, Emil Dardak, Ridwan Kamil, dan tokoh-tokoh muda lainnya, Sandi dan Erick adalah tokoh-tokoh bukan reproduksi parpol. Yang terakhir ini, sebagai lembaga politik, “terpaksa” mengajukan mereka ?karena ketidakmampuan membuat diri relevan dengan perkembangan zaman dan melahirkan calon pemimpin sesuai harapan publik yang dinamis.
Share
Loading...
Berita Terkait
  • 3 jam lalu

    Are Southeast Asia?s Retailers and Brands customer #ready?

    Southeast Asia's leading retailers, investors and technology leaders to meet at #ready2018 in Singapore to discuss the future of digital commerce and SEA's readiness f

  • 3 jam lalu

    Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Jadi Rp5.397 T!

    NASIONAL, - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia terus tumbuh di akhir kuartal III-2018. Posisi ULN Indonesia pada akhir kuartal III-2018 tercatat US$ 359,8 miliar atau Rp 5.397 tr

  • 3 jam lalu

    Ini Besaran Utang Luar Negeri BUMN di Indonesia

    NASIONAL, - Utang Luar Negeri Indonesia terus tumbuh di akhir kuartal III-2018. Posisi ULN Indonesia pada akhir kuartal III-2018 tercatat US$ 359,8 miliar atau Rp 5.397 triliun
  • 3 jam lalu

    128 Atlit Pencak Silat Ikuti Kejurkab Tajaan IPSI Inhil

    RIAUONE.COM, TEMBILAHAN - Untuk memantau dan menjaring atlit yang berpotensi, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Indragiri Hilir menaja Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab

  • Komentar

    Copyright © 2012 - 2018 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.