• Home
  • Riau Raya
  • Sukses Membangun Pekanbaru, Firdaus-Ayat di Mata Para Tokoh Riau
Rabu, 01 Februari 2017 22:53:00

Sukses Membangun Pekanbaru, Firdaus-Ayat di Mata Para Tokoh Riau

PEKANBARU - Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru Dr H Firdaus ST MT dan H Ayat Cahyadi SSi resmi mengakhiri masa jabatannya, Kamis (26/1/2017). Keduanya, tetap kompak untuk maju kembali di periode 2017-2022 dengan lima partai politik, yakni Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Gerindra, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Bulan Bintang (PBB).

Setelah sekitar lima tahun memimpin kota yang menyandang predikat sebagai ibukota Provinsi Riau ini, beragam penilaian pun bermunculan soal kinerja duet Firdaus-Ayat. Tapi terlepas dari berbagai penilaian yang ada, tapi fakta ini sulit dinafikan: sejak empat tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Firdaus MT dan Ayat Cahyadi, laju pembangunan fisik, pendidikan dan perekonomian di Pekanbaru terus bergeliat menuju kota metropolitan.

Setidaknya, ada 14 penghargaan bergengsi tingkat nasional yang diraih pasangan ini selama memimpin. Bahkan, Pekanbaru kini menuai berbagai sanjungan. Dengan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional dan perputaran uang terbesar nomor satu di luar Pulau Jawa dan nomor lima di Indonesia.

Letaknya yang strategis, jumlah penduduk diatas 1 juta jiwa dan pintu gerbang masuk dari negara-negara Asia, menempatkan Kota Pekanbaru sebagai Kota Tujuan Investasi terbaik di Indonesia. Sebutan-sebutan lain pun bermunculan atas potensi yang dimiliki ibukota Bumi Lancang Kuning itu, mulai dari istilah Kota Smart, Kota Enterpreneur, sampai Kota Metropolitan Madani. Sebutan Kota Metropolitan Madani tidak lahir begitu saja, karena ini merupakan cita-cita Walikota dan Wakil Walikota Firdaus-Ayat Cahyadi yang tertuang dalam visi yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012.

Dalam beberapa kesempatan, Walikota Dr H Firdaus MT mengatakan, Kota Metropolitan Madani adalah suatu tekad bagi pengembangan kota berperadaban dan siap menyongsong tantangan masa depan. Tekad tersebut merupakan tujuan bersama yang sudah tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012.

''Kata Madani yang kami pakai untuk menyebut Kota Pekanbaru ini adalah suatu kata di dalam visi antara kepala daerah masa bakti 2012-2017 mewujudkan Kota Metropolitan Madani. Visi ini mengacu kepada visi daerah sebelumnya yang sudah dibukukan dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2011,'' urai Firdaus.

Berikut pendapat sejumlah tokoh Riau tentang kepemimpinan Dr H Firdaus ST MT dan H Ayat Cahyadi SSi, sebagai Walikota Pekanbaru dan Wakil Walikota Pekanbaru 2012-2017.

Drs H Achmad MSi, Plt. Ketua DPD Partai Demokrat Riau

Bukan Sekadar Janji, Tapi Bukti

Mendukung pasangan Firdaus-Ayat kembali maju dalam pertarungan pemilihan Walikkota Pekanbaru dan Wakil Walikota Pekanbaru pada Februari 2017 mendatang bukan lantaran Firdaus kader Demokrat, tapi selama kepemimpinan Firdaus-Ayat pembangunan Pekanbaru berkembang sangat pesat. Selama kepemimpinan mereka, Pekanbaru aman dan pembangunan berkembang pesat.

Mengapa memilih pasangan Firduas-Ayat? Karena banyak pembangunan yang telah dilakukan seperti membangun rumah sakit umum, SMK teknologi, SM Madani, dan masih banyak pembangunan lainnya. Beliau pemimpin yang cerdas, selama kepimpinannya Pekanbaru menjadi kota tujuan investasi terbaik.

Dengan banyaknya investasi yang masuk ke Pekanbaru, tentu membuka lapangan pekerjaan. Kini kita lihat pembangunan hotel menjamur di Pekanbaru, ini tentunya membuka lapangan pekerjaan baru. Apa yang dilakukan Firdaus-Ayat, bukan sekadar janji tapi bukti. Mereka sudah membuktikan kinerjanya dalam membangun Pekanbaru menuju kota metropolitan madani. Maka kita lanjutkan Firdaus-Ayat, sebab masih banyak yang akan mereka lakukan untuk memajukan Pekanbaru.*

Drs H Wan Abu Bakar MS, Mantan Gubernur Riau

Sudah Teruji dan Layak Memimpin Kembali

Masyarakat Kota Pekanbaru, yang akan menggunakan hak pilihnya dalam Pilwako Pekanbaru 2017, diharapkan obyektif dalam menjatuhkan pilihan politiknya, untuk memilih Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru periode 2017-2022. Dalam konteks ini, saya menilai pasangan Firdaus-Ayat yang maju lagi dinilai sudah teruji dan layak diberi kepercayaan untuk kembali memimpin Pekanbaru.

Harus juga menjadi bahan pertimbangan, yaitu konsep Pekanbaru Madani yang diusung pasangan Firdaus-Ayat Cahyadi sudah berjalan dengan baik di tengah-tengah kompleksitas Kota Pekanbaru. Walaupun perlahan, tapi progresnya cukup baik, ini memang bukan pekerjaan mudah karena Pekanbaru masyarakatnya heterogen.

Kita juga tak mungkin menutup mata, selama kepemimpinan pasangan itu terjadi berbagai perubahan yang signifikan di Kota Pekanbaru. Visinya jauh ke depan, misalnya jalan-jalan lingkungan banyak di lakukan perbaikan dan perluasan, penertiban pasar-pasar untuk dijaga keindahannya, termasuk terobosan membangun komplek perkantoran dan lain-lain. *

drh H Chaidir MM, Mantan Ketua DPRD Riau

Mereka Punya Visi dan Perencanaan yang Bagus

Firdaus bersama pasangannya, Ayat Cahyadi, yang telah sekitar lima tahun memimpin Kota Pekanbaru, memiliki visi yang bagus dalam mengelola Pekanbaru, yang bersatus sebagai ibukota Provinsi Riau ini. Beliau juga memiliki perencanaan kota metropolitan itu dan memahami filosofinya.

Dengan visi perencanaan seperti itu yang telah disusun Firdausi, aset milik pribadi warga masyarakat otomatis akan meningkat nilainya berlipat-lipat. Saya punya keyakinan sebuah kota modern akan terwujud, dan masyarakat Kota Pekanbaru akan menikmatinya.

Pada bagian lain, Pekanbaru telah memenuhi semua persyaratan sebagai sebuah kota metropolitan, dan dalam sebuah kota metropolitan, birokrasi pemerintah kota yang dipimpin oleh walikota harus mampu berpikir strategis. Walikota harus secara terus menerus menggerakkan seluruh potensi kota dan harus memiliki kemampuan menggerakkan private sector, terutama kalangan investor untuk sama-sama mengisi pembangunan kota.

Dalam lingkungan masyarakat perkotaan yang demikian, perencanaan yang bagus, komprehensif dan konsisten menjadi modal dasar dan sekaligus instrumen yang sangat diperlukan untuk memberikan kepastian berinvestasi. Dan Dr H Firdaus ST MT, walikota incumbent, memenuhi semua syarat untuk itu, karena memiliki visi dan kapasitas perencanaan yang bagus.*

Nurzahedi (Eddy Tanjung), Anggota DPR RI

Tugas Firdaus Belum Selesai

Telah menyelesaikan periode pertama masa jabatannya sebagai Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru periode 2012-2017, sejatinya tugas pak Firdaus sebagai walikota belumlah selesai. Beliau akan segera menyelesaikan dinding dan atapnya dan bagian lainnya, hingga semua bangunan tersebut sempurna.

Untuk itu pak Firdaus harus menjadi walikota kedua kalinya, terutama dimaksukan untuk menyelesaikan sejumlah bengkalai selama ini, dan untuk membuat Kota Pekanbaru semakin maju. Saya secara pribadi maupun partai, sangat mendukung pak Firdaus untuk menjadi Walikota kedua kalinya.

Pertimbangannya, dalam pengamatan saya, geliat pembangunan di Pekanbaru selama hampir lima tahun ini sangat positif. Pertumbuhan investasi juga cukup menggembirakan. Ini bisa kita lihat dengan menjamurnya pusat-pusat bisnis, seperti perhotelan, pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan lainnya.

Artinya, investor memandang Pekanbaru sebagai kota yang cukup menjanjikan. Kondisi ini jelas tidak terlepas dari kepemimpinan kepala daerahnya sehingga mampu menciptakan kenyamanan dan kemudahan bagi para investor untuk berinvestasi. Ke depan saya optimis, Pekanbaru akan jauh lebih maju dan berkembang, menyusul akan dikembangkanya konsep pembangunan Pekanbaru Smart City.*

Sofyan Siroj, Ketua DPD PKS Pekanbaru

Konsisten Menjaga Keseimbangan

Program-program Pemko Pekanbaru di bawah kepemimpinan Walikota Firdaus dan Wakil Walikota Ayat Cahyadi sangat jelas dalam keseimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan mental/rohani masyarakat. Hal ini dengan ditandai dengan pembangunan infrastruktur mulai yang skala besar (pembangunan jalan lingkar, rumah sakit, dan komplek perkantoran yang membuka daerah baru, pembukaan kawasan industri) sampai pada yang skala kecil (jalan lingkungan dan drainase lingkungan).

Namun dengan semua pembangunan fisik tersebut, Firdaus-Ayat tidak melupakan pembangunan mental/rohani masyarakat yang ditandai dengan pembangunan Masjid Paripurna sampai ke tingkat kelurahan. Kita ketahui, masjid adalah pusat kegiatan dan peradaban.

Selain itu, keinginan pasangan Firdaus-Ayat dalam mewujudkan masyarakat Madani di Kota Pekanbaru dalam pengertian kota yang memiliki akhlak mulia, peradaban maju, modern, memiliki kesadaran sosial yang kuat, gotong royong, toleran, dalam sistem politik yang demokratis dan ditopang oleh supremasi hukum yang berkeadilan, berpendidikan maju, berbudaya melayu, aman, nyaman, damai sejahtera, bertanggung jawab serta berlandaskan iman dan taqwa, menunjukkan bahwa pasangan ini sangat komit dan perhatian terhadap pelestarian nilai-nilai keimamanan dan ketaqwaan serta nilai budaya melayu yang sangat identik dengan Islam.*

Prof. Dr. Detri Karya, SE, MA, Rektor Universitas Islam Riau

Membawa Perubahan di Banyak Sektor

Harus jujur diakui, sejak sekitar lima tahun terakhir, yaitu sejak Pekanbaru dipimpin duet Walikota Firdaus dengan Wakil Walikota Ayat Cahyadi  banyak perubahan pembangunan di banyak sektor. Tidak terkecuali sektor yang termasuk cukup strategis, yaitu pendidikan.

Seperti data yang saya ketahui, selama rentang waktu 2012-2016, sedikitnya ada sekitar 21 unit sekolah baru dengan jumlah 392 ruang kelas baru (RKB) yang dibangun. Jumlah ini berasal dari berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan SMK. Ini adalah fakta yang patut diapresiasi. Artinya, progres pembangunan cukup positif. Mungkin ke depan bisa ditingkatkan dengan bebagai inovasi.*

HR Maizir Mit SE MBA, Tokoh Masyarakat Melayu Riau

Pemimpin Santun dan Religius

Dalam pandangan saya, pasangan Dr H Firdaus ST MT dan H Ayat Cahyadi SSi, sudah cukup berhasil membangun kota Pekanbaru hampir lima tahun kepemimpinan mereka. Sudah banyak yang mereka perbuat dengan berbagai terobosannya.

Pembangunan-pembangunan yang mereka lakukan, sudah dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Pekanbaru. Dan ke depan, tentu harus terus diperkuat dan berkesinambungan.

Saya juga melihat, mereka berdua memiliki kepribadian yang santun dan religius. Sosok kepemimpinan, memang sangat kental dalam diri Firdaus-Ayat.

Arifin Bantu Purba, Tokoh Masyarakat Batak di Riau

Heterogen, Tapi Tak Ada Gejolak Sosial

Arifin Bantu (AB) Purba menilai masyarakat Batak di Pekanbaru melihat kepemimpinan Firdaus cukup bagus. Perkembangan kota begitu terasa, hubungan eksekutif dengan legislatif juga bagus. Sselain itu, kondisi sosial masyarakat juga kondusif dan harmonis, tidak ada gejolak atau riak-riak meski masyarakat Pekanbaru begitu heterogen.

(Purba mengatakan itu dalam pertemuan pengurus Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR) pimpinan Tumpal Hutabarat dengan Firdaus di rumah dinas wali kota di Jalan Ahmad Yani Pekanbaru, beberapa waktu lalu. Selain Tumpal dan Purba, turut hadir para tokoh masyarakat Batak di Riau antara lain H Fachruddin, Viator Butar-butar, JP Simanjuntak atau lebih dikenal dengan Raja Tartar Simanjuntak, Alisyahbana Ritonga, Raya Nainggolan, Fery Sandra Pardede, H Pangoloan Hasibuan, dan Solo Marbun).

Melihat semua kondisi yang ada, kami menyatakan tidak ragu-ragu bahwa untuk melanjutkan rencana besar menjadikan Pekanbaru kota metropolitan yang madani, pak Firdaus harus melanjutkan kepemimpinan ke periode kedua.  Kami melihat satu periode, tidak akan cukup untuk melaksanakan program-program yang telah disiapkan, apalagi ada sebuah rencana besar.*

Suradi Paijan, Tokoh Masyarakat Jawa di Riau

Tak Ada Aparat Pemko Berurusan dengan KPK

Selain mencatat sejumlah keberhasilan di berbagai sektor pembangunan, baik fisik maupun non-fisik, saya punya satu catatan khusus selama lima tahun pasangan Walikota Firdaus dan Wakil Walikota Ayat Cahyadi memimpin Kota Pekanbaru, yaitu pelaksanaan pemerintahan yang tergolong relatif bersih.

Buktinya, selama lima tahun kepemimpinan Firdaus-Ayat saya tak pernah mendengar ada satu aparat Pemko Pekanbaru, mulai dari jajaran terendah sampai ke yang tertinggi, berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Ini membuktikan, kepemimpinan duet ini mampu menerapkan prinsip-prinsip pemerintahan yang bersih, yang terjauh dari praktek KKN (korupsi, kolusi, nepotisme).

Di tengah tingkat kepercayaan publik yang terus menurun terhadap aparat pelaksana pemerintah oleh karena kasus KKN, apa yang telah diperlihatkan dan dibuktikan pasangan Firdaus-Ayat selama lima tahun memimpin Pekanbaru, yaitu penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, memang pantas diapresiasi. Pasangan ini mampu menunjukkan contoh nyata yang baik kepada publik.

Pendapat saya, warga Pekanbaru seyogianya memberi amanah sekali lagi untuk pasangan ini buat memimpin kota ini dalam rentang waktu lima tahun ke depan. Sebab, selama lima tahun terakhir memimpin Pekanbaru, selain sejumlah program sudah berjalan sebagai yang ditargetkan, masih ada sejumlah program yang memerlukan penanganan segera. Untuk hal-hal semacam ini jelas membutuhkan kontiniutas.

Maka, sangat wajar kalau Firdaus-Ayat diberi amanah satu periode lagi, terutama dimaksudkan untuk menyelesaikan sejumlah program yang masih terbengkalai. Yang kita cemaskan, kalau terjadi pergantian pucuk pimpinan di kota ini, program-program itu tidak ditindaklanjuti. Sebab, sebagian besar dari program-program seperti itu menyentuh langsung kepentingan masyarakat banyak. *

Nehry Mangkuto Ameh, Ketua Umum Kerukunan Kekeluargaan Sumatera Barat (KKSB)

Basuluh jo Mato Urang Banyak

Dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Kerukunan Kekeluargaan Sumatera Barat (KKSB), saya tidak bisa menafikan aneka keberhasilan Kota Pekanbaru di berbagai sektor pembangunan dalam rentang waktu lima tahun terakhir, terhitung sejak kota ini dipimpin oleh Walikota Firdaus dan Wakil Walikota Ayat Cahyadi. Bak pepatah masyarakat Minang, sudah bersuluh di mato urang banyak.

(KKSB merupakan organisasi warga Pekanbaru yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat, yang baru dideklarasikan pada 9 September lalu. Dalam KKSB berhimpun sejumlah Ika (ikatan kekeluargaan) warga Pekanbaru asal Sumatera Barat seperti IKPS (Ikatan Kekeluargaan Pesisir Selatan), PKDP (Persatuan Kekeluargaan Daerah Pariaman), IKTD (Ikatan Kekeluargaan Tanah Datar), dan lainnya).

Salah satu keberhasilan Firdaus-Ayat yang terbilang menonjol adalah keberanian pasangan ini melakukan pengembangan kota ke kawasan Kecamatan Tenayan Raya. Ini kebijakan yang memiliki implikasi yang sangat luas. Antara lain, kepadatan penduduk yang selama ini terkonsentrasi di sejumlah titik, sudah  bisa dilakukan penyebaran secara merata.

Kegiatan perekonomian juga akan mengekor dengan sendirinya, dan tak lagi terfokus pada beberapa titik seperti yang terjadi selama ini. Tenayan Raya yang selama ini terkesan sebagai kecamatan yang terabaikan, kelak diprediksi akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di kota ini, mengimbangi kawasan-kawasan yang telah maju sebelumnya.

Secara makro, saya sudah melihat langsung master plant dan blue print pengembangan Pekanbaru, yang saya yakini merupakan jawaban yang tepat terhadap kondisi kota ini ke depan. Dalam master plant dan blue print itu, tertuang secara rinci penataan kawasan-kawasan kota sesuai dengan peruntukannya.

Persoalannya, dalam penataan kota itu ada yang butuh waktu singkat untuk mengimplementasikannya, selain juga ada yang menelan waktu panjang, baik karena pertimbangan proses maupun soal pendanaan. Makanya, agar master plant dan blue print itu terwujud secara nyata, sangat diperlukan kesinambungan sosok pasangan yang dipercaya untuk duduk di pucuk pimpinan Kota Pekanbaru.

Kita juga tak menafikan komitmen dan konsistensi pasangan ini untuk menjaga keseimbangan pembangunan. Di saat pembangunan fisik dari berbagai sektor terus digenjot, pasangan Firdaus-Ayat juga tidak mengabaikan pembangunan yang bersifat non-fisik. Semaraknya kehidupan beragama di kota ini, membuktikan kuatnya dukungan pemerintah untuk menjaga dan mengembangkan kehidupan beragama di Pekanbaru.

Kendati demikian, kalau pasangan ini dipercaya lagi untuk memimpin Pekanbaru lima tahun ke depan, untuk kurun waktu 2017-2022, kami punya sejumlah catatan khusus, yang kiranya menjadi perhatian. Pertama, Pemko harus memperbanyak pengembangan daerah komersial. Selain untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi, juga diharapkan untuk membuka peluang berusaha yang luas bagi masyarakat.

Pemko di bawah duet kepemimpinan walikota dan wakil walikota juga diharapkan semakin mengintensifkan komunikasi dengan semua elemen masyarakat. Tegasnya lagi, mesti dibangun komunikasi dua arah yang positif dan konstruktif antara pemko di satu sisi sebagai pengambil kebijakan, dan masyarakat di sisi lain.

Yang diharapkan tidak lain adalah agar semua program yang dilaksanakan oleh Pemko Pekanbaru benar-benar merupakan program yang dibutuhkan oleh masyarakat, bukan program yang lebih menonjol muatan kepentingan proyeknya (project oriented). Bila komunikasi dua arah diitensifkan, maka diharapkan warga kota merasa memiliki dari setiap program yang dijalankan oleh Pemko.*

Yoyok Wardoyo, Ketua Dewan Penasihat Kerukunan Masyarakat Jawa Pekanbaru (KMJP)

Sosok  Santun, Agamis, Rendah Hati, dan Takwa

Kami warga Kota Pekanbaru yang tergabung dalam Kerukunan Masyarakat Jawa Pekanbaru (KMJP), setelah melihat, menilai, dan menimbang, kemudian memutuskan bahwa untuk kemaslahan Kota Pekanbaru maka dirasa perlu untuk mendukung kelanjutan kepemimpinan Walikota Firdaus dan Wakil Walikota Ayat Cahyadi di kota ini, untuk rentang waktu lima tahun ke depan.

(KMJP merupakan organisasi kekeluargaan warga Pekanbaru asal Pulau Jawa yang baru berdiri sekitar setahun belakangan ini. Dalam perkiraan Yoyok, dari keseluruhan penduduk Kota Pekanbaru saat ini, sekitar 18 persen merupakan berasal dari Pulau Jawa, dengan memiliki latar belakang sosial dan ekonomi yang berbeda-beda.)

Keputusan itu kami buat setelah menilai apa yang dilakukan oleh pasangan itu selama sekitar lima tahun meminpin kota ini, termasuk juga dengan mempertimbangkan kebutuhan kota ini lima tahun ke depan. Kesimpulannya, demi kepentingan bersama dengan perspektif yang jauh ke depan, pasangan Firdaus-Ayat mesti diberi amanah lima tahun lagi memimpin kota ini.

Secara garis besar kami menilai, selama lima tahun memimpin Pekanbaru pasangan Firdaus-Ayatt dinilai berhasil. Keberhasilan itu kemudian dilengkapi oleh kebijakan pembangunan yang dilakukan secara merata. Dinamika pembangunan di kota ini tak lagi terpusat di beberapa kawasan, tapi menyebar merata ke semua kawasan kota, bahkan termasuk kawasan yang tergolong jauh dari pusat kota.

Kita juga melihat pesatnya pembangunan fisik kota seperti pembangunan sejumlah infrastruktur dasar, termasuk juga pembangunan untuk kebutuhan kemajuan dunia pendidikan dan kesehatan. Kebijakan Pemko mengembangkan sejumlah pasar tradisional juga dinilai mampu menjawab kebutuhan warga untuk melakukan kegiatan di bidang ekonomi.

Di bidang non-fisik, kami menilai keberhasilan yang paling menonjol dari pasangan ini adalah kemampuan mereka dalam menjaga kondusifitas kota. Di tengah penduduk yang heterogen, yang datang dari begitu banyak perbedaan (agama, bahasa, budaya, etnis, dan lainnya), tapi sejauh ini Pekanbaru masih terjauh dari apa yang disebut dengan konflik horizontal.

Menciptakan suasana semacam ini jangan dianggap sebagai pekerjaan yang mudah. Di tengah begitu banyak latar belakang, yang identik dengan perbedaan, kalau tiak pandai-pandai memenej merupakan sebuah potensi yang bukan tidak mungkin akan menyulut kerawanan. Tapi, pasangan Firdaus-Ayat membuktikan telah mampu untuk itu.

Kondisi ini bisa jadi juga dimungkinkan oleh faktor pendorong lain, yaitu sosok Firdaus secara pribadi yang memiliki karakter yang cukup kuat untuk menopang kapasitasnya sebagai pemimpin. Selain santun, agamis, rendah hati, dan takwa, Pak Firdaus juga merupakan sosok yang mampu menempatkan diri secara pas di tengah aneka perbedaan yang ada.

Juga tak bisa diabaikan bahwa Pak Firdaus merupakan sosok seorang intelektual, yang ditopang oleh aneka latar belakang pendidikan akademis yang tiinggi. Ditambah rangkaian panjang pengalamannya bergelut dengan urusan pemerintahan, telah menempatkan Pak Firdaus sebagai pemimpin yang tahu dengan ‘’detak jantung’’ masyarakat yang dipimpinnya.*

Koko Iskandar, Tokoh Masyarakat Sunda

Berhasil, Dibuktikan Sejumlah Prestasi yang Diraih

Saya memakai parameter sederhana untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sepasang pemimpin dalam memimpin daerahnya, yaitu prestasi. Kalau saya menilai pasangan Firdaus-Ayat sukses dalam memimpin Pekanbaru selama lima tahun terakhir, dibuktikan oleh aneka prestasi yang direbut oleh kota ini di berbagai bidang pembangunan.

Di antara prestasi pasangan ini yang perlu mendapat catatan khusus yaitu penghargaan penataan kota terbaik, dan kota dengan iklim investasi yang baik. Penghargaan pertama erat kaitannya dengan pengembangan kota ke depan, sementara yang satu lagi terkait dengan upaya memacu laju pertumbuhan ekonomi kota dan menciptakan peluang kerja dan peluang berusaha yang luas bagi masyarakat.

Prestasi lain pasangan ini yang juga perlu mendapat apresiasi adalah kemampuan mereka memperbesar angka-angka di APBD Kota Pekanbaru. Informasi yang saya terima, besaran APBD Pekanbaru selama lima tahun pasangan ini memimpin sama dengan besaran APBD Pekanbaru selama 11 tahun anggaran.

Angka-angka di APBD yang besar erat korelasinya dengan semakin banyaknya dana yang tersedia untuk membiayai aneka kegiatan pembangunan, yang sebagian besar di antaranya bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat banyak. Maklum, sejalan dengan pertumbuhan kota, aspirasi, dan tuntutan kebutuhan masyarakat juga bergerak dengan dinamis.

Saya juga memberi catatan khusus soal perhatian pasangan ini yang sangat besar terhadap dua sektor yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat banyak, yaitu pendidikan. Di bidang pendidikan, selain dengan meningkatkan derajat kesejahteraan para guru, pasangan ini juga gencar membangun sekolah baru dan penambahan ruang belajar.

Di bidang kesehatan, banyak di antara puskesmas di kota ini dinaikkan statusnya menjadi puskesmas rawat inap, yang diiringi dengan pembangunan rumah sakit baru, baik yang dikelola pemerintah ataupun dunia usaha. Semua upaya itu tentu akan berimbas terhadap semakin membaiknya kualitas pelayanan kesehatan yang bisa dirasakan oleh masyarakat.

Dibangunnya sejumlah kantor pemerintahan yang baru juga merupakan upaya pasangan ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan birokrasi kepada masyarakat. Lantaran, pembangunan kantor-kantor baru akan semakin mendekatkan masyarakat dengan lembaga-lembaga penyedia pelayanan milik pemerintah.*

H. Ridwan, Tokoh Masyarakat Sulawesi

Beri Apresiasi terhadap Program Masjid Paripurna

Selama lima tahun memimpin Kota Pekanbaru, pasangan Walikota Firdaus dan Wakil Walikota Ayat Cahyadi dinilai mampu melakukan sejumlah lompatan keberhasilan yang menggembirakan. Ini fakta yang sulit dinafikan oleh siapapun juga. Tapi saya secara pribadi meberi catatan khusus terhadap sejumlah program.

Antara lain Masjid Paripurna, yang saya nilai sebagai program yang mampu menjawab kebutuhan umat masa kini dengan perspektif yang jauh melompat ke depan.  Dengan Program Masjid Paripurna, masjid dan rumah peribadatan umat Islam lainnya yang selama ini hanya identik dengan tempat shalat, mengalami perluasan fungsi.

Artinya, dengan program itu akan terjadi perubahan paradigma fungsi masjid dari hanya sekadar untuk menjalankan ritual keagamaan menjadi fungsi yang lebih luas, yaitu sebanyak mungkin diharapkan akan mampu menjawab aneka tantangan umat, termasuk persoalan ekonomi, pembinaan generasi muda, dan lainnya. Dengan perubahan paradigma itu, bukan tidak mungkin di masjid-masjid yang ada di kota ini akan berdiri lembaga ekonomi seperti koperasi.

Sejalan dengan itu, program Magrib Mengaji yang kembali digalakkan oleh pasangan ini diharapkan akan memiliki banyak implikasi. Selain meningkatkan kualitas iman dan takwa umat Islam di kota ini, dari pelaksanaan program itu diharapkan akan menjawab tantangan pembinaan generasi muda yang diyakini akan semakin berat.

Dari kedua program yang sejatinya memiliki ‘’roh’’ yang sama itu, saya melihat sejumlah implikasi yang ditimbulkannya. Yang paling menonjol antara lain, sejumlah masjid di kota ini yang pada waktu tertentu hanya diisi oleh satu syaf saja untuk melaksanakan shalat berjemaah, belakangan berkembang menjadi minimal tiga syaf.

Keberhasilan pasangan ini dalam memacu pembangunan fisik dengan berbagai sektornya juga sebagai sesuatu yang tak terbantahkan. Lihat sajalah Pekanbaru hari ini, khususnya dalam rentang waktu lima tahun terakhir, yang jauh mengalami kemajuan dibandingkan dengan Pekanbaru sebelumnya. Jalan-jalan, satu misal, mulai dari jalan protokol sampai ke jalan di gang-gang, sudah mendapat penangan yang memadai.

Kendati demikian, kita juga tak bisa menutup mata terhadap sejumlah kekurangan, yang masih memerlukan pembenahan. Kekurangan itu bisa jadi karena waktu pelaksanaan program yang tak cukup lima tahun, atau oleh faktor-faktor lain di luar kemampuan pasangan itu untuk menuntaskannya. Sebagai manusia biasa, tentu sulit berharap kesempurnaan terhadap pemimpin manapun juga, termasuk pasangan Pak Firdaus dan Ayat Cahyadi.*

Fakhrunnas MA Jabar, Tokoh Muda Melayu

Perhatiannya Besar untuk Pelestarian Budaya Melayu

Selain memberi apresiasi terhadap aneka keberhasilan pembangunan di bidang fisik selama lima tahun pasangan Walikota Firdaus dan Wakil Walikota Ayat Cahyadi memimpin Kota Pekanbaru, apresiasi yang lebih khusus lagi diberikan pada pasangan ini karena dinilai telah merumuskan dan menjalankan langkah-langkah yang tepat terhadap upaya pelestarian adat dan budaya Melayu, termasuk pengembangan ajaran Islam di kota ini, sebagai agama yang dianut oleh mayoritas warga kota.

Dalam konsep pembangunan Pekanbaru sebagai Kota Metropolitan yang Madani, termasuk Visi dan Misi Kota Pekanbaru, tertuang sejumlah langkah dan upaya untuk memberi penguatan terhadap adat dan tradisi lokal Melayu di kota ini, termasuk juga pengembangan ajaran Islam. Konsep itu kemudian dituangkan ke dalam sejumlah program, yang pengaplikasiannya dilakukan secara bertahap dan sistematis.

Secara formal, penguatan adat dan tradisi Melayu diajarkan melalui muatan lokal pada anak didik di semua lembaga pendidikan dengan semua jenjang dan tingkatannya. Termasuk juga program Magrib Mengaji, yang merupakan bagian dari upaya untuk lebih mensyiarkan ajaran agama Islam, juga merupakan kegiatan wajib yang harus diselenggarakan oleh sekolah-sekolah yang ada di kota ini.

Sementara secara informal, penguatan adat dan tradisi Melayu, termasuk juga dalam upaya lebih mensyiarkan ajaran Islam di tengah masyarakat, dipercayakan kepada lembaga-lembaga informal yang ada di tengah masyarakat. LAM (Lembaga Adat Melayu) Pekanbaru, satu misal, sebagai sebuah institusi informal, terus melakukan pengkajian-pengkajian dengan sasaran untuk melestarikan adat dan budaya Melayu di tengah masyarakat Pekanbaru.

Menyoal beratnya upaya mempertahankan nilai-nilai lokal di tengah gempuran budaya asing yang masuk dari semua penjuru, itu memang fakta yang sulit dinafikan. Tapi satu hal yang bisa dipastikan, pasangan Firdaus-Ayat sejak jauh hari sudah menyadari beratnya tantangan di bidang yang satu ini, dan telah meletakkan kerangka landasan yang kuat untuk menghadapinya. Aplikasinya, tentu sangat memerlukan dukungan dari semua elemen warga.

Apalagi, saya melihat pasangan Firdaus-Ayat merupakan kombinasi yang pas untuk menghadapi tantangan semacam itu. Pak Firdaus yang dikenal sebagai tokoh Melayu Kampar, yang kemudian dikombinasikan dengan Pak Ayat yang dikenal memiliki basis yang kuat di bidang pengembangan agama (Islam); merupakan perpaduan serasi yang diharapkan bisa menjawab kebutuhan dan tantangan warga Pekanbaru ke depan, terutama di bidang pelestarian adat dan budaya Melayu, serta pengembangan ajaran Islam. (zar/*).

 

Share
Berita Terkait
  • 3 bulan lalu

    Walikota Pekanbaru Tidak di Vaksin Sinovac, kenapa?


  • 4 tahun lalu

    Pemilukada Kota Pekanbaru 2017, Di Tenayan Raya dan Marpoyan Damai, Firdaus-Ayat Unggul

    Pemilukada Kota Pekanbaru 2017, Hasil Perhitungan Suara di Tenayan Raya dan Marpoyan Damai, Firdaus-Ayat Unggul
     
    PEKANBARU - Pasangan pe
  • 4 tahun lalu

    Ini Daftar Sumbangan Dana Kampanye Calon Walikota dan Wakil Walikota di Pekanbaru

    RIAU, NUSANTARA, - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pekanbaru mengumumkan laporan sumbangan dana kampanye lima pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru.
  • 4 tahun lalu

    KTIKP Audensi Dengan Plt Walikota Pekanbaru

    PEKANBARU - Karang Taruna Indonesia Kota Pekanbaru (KTIKP) mengadakan Audensi dengan Pelaksana tugas (Plt) Walikota Pekanbaru, Edward Sanger, Senin (14/11) di Kantor Waliko
  • Komentar
    Copyright © 2012 - 2021 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.