• Home
  • Riau Raya
  • Usulkan Sagu Meranti Masuk Komoditi Pokok Nasional dan Dibeli Perum Bulog
Rabu, 15 Juli 2020 21:59:00

Usulkan Sagu Meranti Masuk Komoditi Pokok Nasional dan Dibeli Perum Bulog


MERANTI, riauone.com - Berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, dalam memperkenalkan dan memperjuangkan agar Sagu menjadi makanan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat, baik lokal Indonesia dan bahkan mancanegara.

Salah yang dilakukan Bupati Kepulauan Meranti Drs H Irwan MSi, dengan mengunjungi Perum Bulog, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (8/7/2020), untuk menjadikan Sagu masuk dalam komoditi pangan pokok nasional.

Saat kunjungannya dengan didampingi Plt Kepala Bappeda, Mohamad Aza Fahroni dan rombongan yang langsung disambut oleh Direktur Operasional II Perum Bulog RI, Tri Wahyudi Saleh, Bupati Irwan meminta kepada pihak Perum Bulog untuk menjadikan Sagu sebagai salah satu komoditi pangan nasional. Sehingga hasil produksi Sagu nasional, khususnya di Meranti dapat dibeli, dipasarkan dan diekspor ke mancanegara layaknya makanan pokok beras.

Dia juga menjelaskan bahwa Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan salah salu daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia. Perkebunan Sagu telah menjadi sumber penghasilan utama hampir 20 persen masyarakatnya. Adapun luas Iahan 39.644 hektar, jumlah pabrik Sagu sebanyak 95 unit dengan hasil produksi tepung sagu mencapai 241.277 ton/tahun.

Sementara itu, untuk harga tepung Sagu kering berkisar Rp5.500 hingga Rp6000/kg. Sagu basah antara R1800-2000/kg. Sebagian hasil produksi Sagu Meranti dijual ke Cirebon, Pekanbaru, Medan dan Malaysia. 

Selain dari kebun sagu masyarakat terdapat juga kebun Sagu miliki PT Nasional Sagu Prima (NSP) seluas 21.000 hektar yang diberi izin dan telah diolah seluas 14.000 hektar. Hasil produksi sagu PT NSP di ekspor ke berbagai negara, diantaranya Jepang, Korea Selatan dan Singapura. 

Namun dengan terjadinya wabah pandemi Corona Virus Disease (COVlD-19) sangat berdampak pada pemasaran hasil produksi tepung sagu dan juga berpengaruh pada ekonomi petani sagu di Meranti.

"Akibat adanya penutupan wilayah atau daerah yang menjadi tempat penjualan hasil tepung sagu menyebabkan terganggunya pemasaran dan juga berpengaruh pada ekonomi masyarakat, khususnya petani Sagu," jelas Irwan saat itu. 

Untuk itu, agar petani Sagu tetap bersemangat mengolah Sagu sekaligus memberikan kepastian pemasaran Sagu, Bupati Irwan, berharap kepada Perum Bulog RI dapat menampung dan membeli hasil produksi tepung sagu dimaksud.

"Hal ini juga sesuai dengan penugasan Perum Bulog dalam rangka menjaga ketahanan dan menjaga stabilitas pangan nasional," ucapnya.

Permintaan Bupati Meranti tersebut, disambut baik oleh Direktur Operasional II Perum Bulog RI, Tri Wahyudi Saleh. Namun untuk menjadikan Sagu sebagai komoditi pangan nasional yang dapat dibeli oleh Perum Bulog, tidak bisa ditegltapkan sepihak, melainkan harus berkoordinasi terlebih dulu dengan Kementrian terkait seperti Menko Perekonomian dan lainnya memberikan penugasan kepada Perum Bulog.

Untuk itu, Tri Wahyudi meminta Bupati Meranti untuk terlebih dahulu membahas masalah tersebut ke Menko Perekonomian dan Kementrian terkait lainnya. Bahkan, guna lebih menguatkan usulan pihak Perum Bulog juga meminta kajian akademis, sehingga dapat ditindaklanjuti dengan survei dilapangan sebagai pertimbangan dikeluarkannya kebijakan.

Lebih lanjut, mengenai usulan melalui pihak Bulog sendiri, diakui Plt Kepala Bappeda Meranti Mohamad Aza Fahroni, bahwanPemkab Kepulauan Meranti sangat berharap dapat segera ditindaklanjuti oleh Perum Bulog.

"Semoga usulan-usalan yang kita masukan ke Bulog dapat ditindaklanjuti sebagai pertimbangan pusat dalam mengeluarkan kebijakan komoditi Sagu ini," harap Aza.

Usulan Bupati untuk memasukan Sagu menjadi komoditi pangan nasional yang dapat dibeli dan dipasarkan oleh Perum Bulog ini bukanlah yang pertama kali tapi sudah kesekian kalinya.

Sebelumnya hal serupa juga disampaikan Bupati kepada Direktur Pengadaan Perum Bulog RI Wibisono Puspitohasi dalam seminar Webinar Pembangunan Industri Berbasis Sagu Terpadu yang ditaja oleh Dewan Guru Besar Institute Pertanian Bogor (IPB), dimana Bupati Irwan menjadi salah satu  arasumber.

Ketika itu Bupati Irwan yang juga Ketua Forum Komunikasi Kabupaten Penghasil Sagu Indonesia (Fokus-Kapassindo), mengatakan jika Pemerintah serius mewujudkan ketahanan pangan Nasional, inilah saatnya Pemerintah fokus pada pengembangan Sagu sebagai Pangan alternatif pengganti beras sekaligus menekan Import beras Nasional.

Pemkab Kepulauan Meranti sebagaimana diakui Bupati, sangat menyadari potensi Sagu sebagai alternatif pangan pengganti beras dengan terus berupaya memberdayakan kilang-kilang Sagu rakyat melalui penerapan teknologi, membuka akses pemasaran hingga menyediakan fasilitas kepelabuhan dan pergudangan.

Namun, hal itu dikatakan Irwan belum cukup. Pemerintah pusat melalui Perum Bulog harus turun tangan memasukan Sagu dalam managemen Logistik Nasional. Caranya dengan menampung dan membeli hasil produksi Sagu masyarakat layaknya Bulog membeli beras sehingga memberikan jaminan kepada masyarakat pengolah Sagu disektor pemasaran.

Jika Bulog turun tangan, maka hasil produksi Sagu masyarakat tak perlu lagi dijual kepada Katel Sagu yang selama ini memonopoli pasar Sagu di Meranti bahkan mungkin di Indonesia. Bahkan, Pemda Meranti telah membangun pabrik berskala kecil yang dapat mengolah Sagu menjadi beras Sagu dengan kapasitas 700 Kg/hari dan mampu memproduksi 20 ton Sagu basah/hari yang dapat diolah menjadi berbagai makanan seperti Mie dan lainnya.

Dihadapan para profesor, guru besar, pakar ekonomi, pihak swasta dan peserta seminar lainnya, Bupati Meranti mengundang Perum Bulog untuk melakukan kerjasama operasi masuk scara serius di industri Sagu. Irwan yakin jika itu terjadi maka Sagu akan mampu menjadikan Indonesia mencapai kedaulatan pangan. (adv/uzi)

Share
Komentar

Copyright © 2012 - 2020 riauone.com | Berita Nusantara Terkini. All Rights Reserved.